Kendari – Hubungan historis yang erat antara Kesultanan Buton dengan wilayah semenanjung Melayu kembali dipertegas melalui kunjungan muhibah kebudayaan yang berlangsung pada 20-24 Januari 2026. Sultan Buton ke-41, PYM Ir. H. La Ode Muhammad Sjamsul Qamar, M.T., IPU., melakukan kunjungan ke Kampung Murhum, Pattani, Thailand Selatan.

Kunjungan ini bukan sekadar seremoni, melainkan sebuah misi “napak tilas” untuk melacak kembali jejak intelektual dan spiritual Islam yang menghubungkan Buton dengan dunia Melayu-Pattani di masa lampau.

Setibanya di lokasi, Sultan Buton langsung mengunjungi Masjid Tua Kerisik, sebuah situs bersejarah yang dibangun pada tahun 1514.

Budayawan Buton yang turut dalam rombongan, La Yusrie, menjelaskan makna mendalam dari lokasi tersebut bagi sejarah Buton.

“Sultan Buton ke-41 PYM Ir. H. La Ode Muhammad Sjamsul Qamar, M.T., IPU. tiba di Kampung Murhum, Pattani Thailand, dan segera memasuki Masjid Tua Kerisik. Kerisik ialah perkataan Melayu yang berarti pasir di kawasan pantai yang berwarna putih seperti mutiara. Orang Arab yang berlayar dan sampai ke pantai ini lalu menamainya ‘Lu’ ‘Lu’ atau ‘Mutiara’ dalam bahasa Melayu, itulah juga mengapa pantai ini dinamai tanjung ‘Luluk’,” tulis La Yusrie.
Ia menambahkan bahwa masjid ini memiliki nilai sejarah yang luar biasa karena menjadi titik awal perjalanan dakwah tokoh yang sangat dihormati di tanah Buton.

“Ini masjid bernama lain Masjid Sultan Muzaffar Shah, atau dalam Thailand disebut ‘Krue Se Mosque’ atau ‘Pitu Krue-ban Mosque’, dibangun pada tahun 1514.

Inilah salah satu masjid tertua di Asia Tenggara di mana jejak kesultanan Buton tersimpan juga di sini—ulama pembawa Islam di Buton Syeh Abdul Wahid pernah menjadi Qadi—Imam di masjid ini sebelum ia ke Buton,” lanjutnya.

Melacak Asal-Usul Syekh Abdul Wahid Selama ini, literatur mengenai asal-usul pembawa Islam di Buton sering kali menjadi kajian panjang. Namun, kunjungan ke Pattani ini memberikan konfirmasi nyata bagi para sejarawan dan budayawan Buton. Syekh Abdul Wahid, yang dikenal di Buton sebagai Imam Fattani, memiliki silsilah yang jelas di bumi Pattani.

“Adalah Syeh Abdul Wahid bin Syarif Sulaiman Al Fattani—atau di Buton lebih dikenali sebagai Imam Fattani menyimpan jejak kuatnya di sini, membawa nama ulama ini dapat dengan detil dilacak asal negeri dan datangnya. Cerita dan berita mengenainya yang bersumber dari Pattani mengonfirmasi banyak hal, terutama betapa dekat dan rekatnya pertautan Pasai Aceh, Pattani, Johor, dan kesultanan Buton,” tambah La Yusrie.

Kunjungan ini diharapkan dapat memperkuat diplomasi kebudayaan dan kerja sama riset sejarah antara Kesultanan Buton dengan komunitas Melayu di Thailand dan Malaysia, guna melestarikan warisan peradaban Islam Nusantara yang sempat terputus oleh batas-batas negara modern (redaksi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *