Oleh Aril, Mahasiswa Jurusan Ilmu Lingkungan UHO

Jujur, ada rasa kecewa ketika mendengar seorang siswi bernama Aqifa diduga dikeluarkan dari kegiatan gerak jalan dalam rangka menyambut HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia hanya karena menggunakan sepatu yang berbeda.

Kekecewaan ini bukan semata-mata soal sepasang sepatu. Ini menyangkut bagaimana kita memperlakukan seorang anak yang seharusnya mendapatkan kesempatan untuk belajar, berproses, berpartisipasi, dan menikmati kegiatan bersama teman-temannya.

Kita memahami bahwa setiap kegiatan sekolah memiliki aturan. Kedisiplinan, ketertiban, dan keseragaman tentu penting. Namun, aturan seharusnya tidak kehilangan sisi kemanusiaannya. Ketika sebuah aturan diterapkan tanpa mempertimbangkan kondisi seorang anak, kita patut berhenti sejenak dan bertanya: apakah tujuan pendidikan sudah benar-benar ditempatkan di atas segala-galanya?

“Anak-anak bukan objek yang hanya dituntut memenuhi standar penampilan. Mereka adalah generasi yang sedang belajar memahami kehidupan. Mereka perlu diajarkan tentang disiplin, tetapi juga tentang empati. Mereka perlu memahami aturan, tetapi juga belajar tentang toleransi,” ujar Aril.

Menurut Aril, perbedaan sepatu semestinya tidak menjadi alasan untuk menghilangkan kesempatan seorang anak mengikuti kegiatan bersama teman-temannya.

“Yang paling mengecewakan bukan ketika sepatu seorang anak berbeda dari yang lain. Yang mengecewakan adalah ketika perbedaan kecil tersebut menjadi alasan seorang anak tidak dapat berdiri dan melangkah bersama teman-temannya,” tegasnya.

Peristiwa ini semestinya menjadi bahan evaluasi bagi pihak sekolah. Bukan semata-mata untuk mencari siapa yang salah, tetapi untuk memastikan bahwa ke depan tidak ada lagi peserta didik yang merasa tersisih hanya karena kondisi atau keterbatasan yang mungkin tidak dapat mereka kendalikan.

Sekolah bukan hanya tempat untuk mengajarkan kepatuhan terhadap aturan. Sekolah juga merupakan ruang untuk membentuk karakter, menanamkan nilai kemanusiaan, membangun rasa percaya diri, serta mengajarkan anak bagaimana menghargai perbedaan.

Karena itu, Aril meminta pihak MTsN 2 Kolaka di Kecamatan Wolo memberikan klarifikasi secara terbuka terkait dugaan tindakan tersebut. Ia juga mendorong agar persoalan ini dapat dijelaskan secara transparan melalui forum atau konferensi pers sehingga publik memperoleh informasi yang utuh dan tidak hanya berdasarkan satu versi.

“Jangan sampai semangat memperingati kemerdekaan justru membuat seorang anak merasa tidak merdeka untuk ikut berdiri dan melangkah bersama teman-temannya,” pungkas Aril.

Pada akhirnya, persoalan ini bukan hanya tentang sepatu. Ini tentang bagaimana dunia pendidikan menempatkan aturan, disiplin, empati, dan kemanusiaan secara seimbang. Sebab, pendidikan yang baik bukan hanya mengajarkan anak untuk mengikuti aturan, tetapi juga mengajarkan kita semua kapan sebuah aturan perlu diterapkan dengan kebijaksanaan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *