MUNA, SULAWESI TENGGARA – KABENGGA.ID ll Warga Kelurahan Wasolangka yang tergabung dalam Forum Komunikasi (FORKOM) Wasolangka menduduki halaman Polda Sulawesi Tenggara, Selasa (2/12/2025). Mereka menuntut kepolisian mengusut tuntas dugaan penyerobotan lahan yang menyeret nama seorang oknum bernama Alwi dan perusahaan kelapa sawit PT Krida Agrisawita—kasus yang oleh warga disebut sebagai praktik mafia tanah.

Aksi yang awalnya berjalan damai berubah menjadi gelombang kekecewaan. Massa membawa spanduk bernada keras, menuduh perusahaan dan oknum perantara bermain kotor dalam proses pembelian lahan.

Aswin, Jenderal Lapangan aksi sekaligus anak dari salah satu korban, menyebut Alwi diduga melakukan transaksi ilegal dengan perusahaan, dan bahkan mengklaim lahan-lahan warga yang tidak pernah dijual.

“Kami tidak pernah menjual tanah kami! Tapi perusahaan berani mengklaim sudah membeli. Ini bukan salah paham, ini penyerobotan!” tegasnya.

Warga mengatakan, kejanggalan mulai terlihat saat auditor PT Krida Agrisawita datang melakukan verifikasi. Mereka memeriksa lahan yang masuk zona merah, yakni wilayah yang jelas tidak pernah dilepas warga. Langkah verifikasi itu justru memperkuat dugaan adanya rekayasa dokumen dan manipulasi data.

Selain itu, warga mengungkapkan adanya indikasi aliran dana dari perusahaan ke rekening Alwi. Namun, proses sosialisasi terkait kompensasi tanaman tumbuh disebut tidak pernah transparan, bahkan cenderung ditutup-tutupi.

Tak hanya itu, warga juga menyoroti peran Kepala Kelurahan Wasolangka, Wa Kobe, yang diduga ikut terlibat dengan menandatangani Surat Keterangan Tanah (SKT) yang dianggap bermasalah.

“Kami menduga ada permainan antara Alwi, Wa Kobe, dan perusahaan. Tanda tangan SKT itulah yang membuat kami curiga terjadi pemalsuan dokumen. Kami ingin semuanya dibongkar sampai ke akar!” ujar Aswin.

Dalam aksi tersebut, perwakilan massa diterima pihak Ditreskrimum Polda Sultra untuk audiensi. Penyidik menyatakan komitmen untuk menindaklanjuti laporan warga.

“Kasus ini akan kami proses sesuai ketentuan hukum. Semua pihak akan kami panggil untuk dimintai keterangan,” ujar penyidik.

Meski begitu, warga menegaskan tidak akan mundur. Mereka berjanji mengawal kasus ini hingga tuntas dan memperingatkan aparat agar tidak bermain-main.

“Jika ada upaya memperlambat atau melindungi pihak tertentu, kami akan konsolidasi besar-besaran, melibatkan organisasi kampus hingga eksternal. Kasus ini akan kami bawa menjadi isu besar di Sulawesi Tenggara,” tegas Aswin.

Kasus ini kini menjadi perhatian serius masyarakat Muna. Publik menunggu langkah berani aparat dalam membongkar dugaan praktik mafia tanah dan memberikan keadilan bagi warga Wasolangka.

Sampai berita ini diterbitkan, pihak-pihak terkait masih diupayakan untuk dimintai tanggapan lebih lanjut.(redaksi).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *