BOMBANA – Aktivitas proses belajar mengajar (PBM) di SMP Negeri 22 Lantari Jaya resmi berakhir pada Sabtu, 14 Maret 2026. Penutupan kegiatan belajar tersebut menandai dimulainya masa libur sekolah dalam rangka menyambut Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah.
Kepala SMP Negeri 22 Lantari Jaya, Drs. I Ketut Sukerana, menyampaikan bahwa 14 Maret 2026 merupakan hari terakhir kegiatan belajar mengajar bagi para siswa selama rangkaian kegiatan di bulan suci Ramadan.
“Setelah hari terakhir PBM ini, para siswa akan memasuki masa libur Hari Raya Idul Fitri yang dimulai pada 16 Maret hingga 28 Maret 2026,” ujarnya.
Ia menambahkan, kegiatan belajar mengajar akan kembali berjalan normal setelah libur Lebaran. Seluruh siswa dijadwalkan kembali masuk sekolah pada 30 Maret 2026.
Dalam pesannya, pihak sekolah juga mengingatkan agar masa libur tidak hanya dimaknai sebagai waktu beristirahat, tetapi juga dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas ibadah selama bulan Ramadan.
Para siswa diharapkan dapat menjalankan ibadah puasa dengan khusyuk, penuh semangat, serta mempersiapkan diri menyambut hari kemenangan pada Hari Raya Idul Fitri.
Selain itu, siswa juga diimbau untuk tetap menjaga keselamatan dalam setiap aktivitas selama berada di luar lingkungan sekolah. Orang tua diharapkan turut memberikan pengawasan agar anak-anak tetap menjalani kegiatan yang positif selama masa libur.
Momentum libur Lebaran juga diharapkan menjadi kesempatan bagi para siswa untuk mempererat silaturahmi dengan orang tua, keluarga, dan masyarakat sekitar dengan saling memaafkan.
“Kami berharap seluruh siswa yang saat ini dalam keadaan sehat dapat kembali masuk sekolah pada 30 Maret 2026 dalam kondisi sehat, penuh semangat, dan siap kembali mengikuti proses belajar mengajar,” tambahnya.
Pengumuman tersebut disampaikan langsung oleh Kepala SMP Negeri 22 Lantari Jaya, Drs. I Ketut Sukerana, kepada Kabengga.id melalui pesan singkat WhatsApp pada Sabtu, 14 Maret 2026.
Dengan demikian, masa libur Idul Fitri diharapkan tidak hanya menjadi waktu istirahat bagi para siswa, tetapi juga menjadi momentum untuk memperkuat nilai spiritual, kedisiplinan, dan kebersamaan dalam keluarga.
