KENDARI, KABENGGA.ID – Pemerintah pusat mengucurkan dana jumbo sebesar Rp185,9 miliar untuk mengakselerasi sektor perkebunan di 15 kabupaten/kota di Sulawesi Tenggara (Sultra) pada 2026. Anggaran dari Kementerian Pertanian itu digelontorkan sebagai fondasi penguatan sektor hulu sebelum Sultra masuk fase hilirisasi pada 2028–2029.
Kepala Dinas Perkebunan dan Hortikultura Sultra, La Ode Muhammad Rusdin Jaya, menegaskan, strategi ini bukan sekadar belanja program, melainkan langkah terukur untuk memastikan produksi meningkat dan surplus komoditas tercapai dalam tiga tahun ke depan.
“Rp185,9 miliar ini difokuskan untuk penguatan hulu—penyediaan benih unggul, pupuk, hingga bantuan Hari Orang Kerja (HOK) bagi kelompok tani selama masa tanam,” tegas Rusdin.
Verifikasi Ketat, Tepat Sasaran
Pemprov memastikan seluruh usulan CPCL (Calon Petani Calon Lokasi) telah melewati verifikasi menyeluruh. Langkah ini ditempuh agar bantuan benar-benar menyentuh petani yang layak, di lokasi yang produktif, dan sesuai komoditas unggulan masing-masing daerah.
Dua kota, yakni Kendari dan Baubau, akan mendapat dukungan yang lebih terfokus pada pengembangan hortikultura.
Sementara itu, dua kabupaten menerima porsi terbesar anggaran:
Kabupaten Kolaka Utara: pala, kelapa, kakao
Kabupaten Konawe Selatan: lada, pala, mete
Wilayah kepulauan juga tak luput dari prioritas. Kabupaten Buton, Kabupaten Buton Tengah, Kabupaten Buton Selatan, dan Kabupaten Muna Barat didominasi pengembangan mete. Kabupaten Muna mendapat alokasi kelapa dan mete, sedangkan Kabupaten Wakatobi memperoleh dukungan signifikan untuk komoditas kelapa.
Target Surplus, Lanjut Bangun Pabrik
Jika penguatan hulu berjalan sesuai rencana, pemerintah optimistis surplus komoditas bisa dicapai dalam tiga tahun. Fase berikutnya, pada 2028–2029, arah kebijakan beralih ke hilirisasi—pembangunan pabrik skala kecil, menengah, hingga besar guna mendongkrak nilai tambah dan memperkuat daya saing produk perkebunan Sultra.
Saat ini, program masih memasuki tahap mini kompetisi di Kementerian Pertanian. Penyaluran bantuan ditargetkan mulai Mei atau Juni 2026 agar selaras dengan kalender tanam.
“Koordinasi pusat, provinsi, dan kabupaten/kota harus solid. Kalau itu terjaga, realisasi anggaran akan efektif dan tepat waktu,” pungkas Rusdin.
Dengan suntikan dana ratusan miliar rupiah ini, Sultra tak sekadar menanam—tetapi sedang menyiapkan lompatan besar menuju industri perkebunan bernilai tambah.**
