Kabengga.id — Pengurus baru Himpunan Ide Teladan Wuna (HITELA Wuna) periode 2026–2027 resmi dilantik oleh Kepala Desa Wuna, Jumat, 31 Januari 2026. Prosesi pelantikan digelar di Balai Pertemuan Desa Wuna dan dihadiri berbagai elemen masyarakat, mulai dari senior alumni, pelajar, perwakilan pemuda dan perempuan, hingga tokoh masyarakat setempat.
Ketua Umum HITELA Wuna, Anjas Asmara, menilai pelantikan kali ini memiliki makna berbeda dibandingkan periode sebelumnya. Keterlibatan lintas elemen masyarakat disebut sebagai bentuk kepercayaan dan harapan besar terhadap kepengurusan baru.
“Pelantikan ini dirangkaikan langsung dengan forum dialog kemasyarakatan. Di situ kami saling bertukar aspirasi dengan masyarakat yang nantinya akan menjadi dasar perumusan program dan arah gerak organisasi ke depan,” ujar Anjas.
Mahasiswa berusia 18 tahun itu menegaskan bahwa HITELA Wuna tidak ingin sekadar menjadi wadah paguyuban, melainkan turut mengambil peran strategis dalam pembangunan desa melalui program pemberdayaan lintas sektor. Menurutnya, kemajuan desa juga dapat diukur dari kualitas dan kemandirian paguyuban sebagai mitra sekaligus penyeimbang kebijakan pemerintah desa.
“HITELA Wuna siap membuktikan bahwa paguyuban adalah unsur pembangunan desa yang wajib diperhitungkan,” katanya.
HITELA Wuna merupakan paguyuban desa pertama di Kecamatan Barangka yang berdiri sejak 2015. Organisasi ini sempat menjadi rujukan bagi pembentukan paguyuban lain. Namun, vakumnya beberapa periode kepengurusan dinilai berdampak pada menurunnya kepercayaan masyarakat serta melemahnya peran kelembagaan.
Kondisi tersebut, menurut Anjas, menjadi bahan refleksi bagi generasi mahasiswa yang kini tergabung dalam HITELA Wuna untuk melakukan reformasi kelembagaan dan mengembalikan esensi paguyuban sebagaimana mestinya.
“Kami adalah generasi baru yang ditakdirkan untuk menghadirkan HITELA Wuna yang lebih baik. Bahkan sebelum pelantikan, kami telah melaksanakan sejumlah program awal yang lebih progresif dan belum pernah dilakukan kepengurusan sebelumnya,” ujarnya.
Anjas juga menyoroti fenomena paguyuban yang kerap terseret kepentingan politik praktis, sehingga program yang dijalankan tidak berorientasi pada keberlanjutan pembangunan desa. Kepengurusan baru HITELA Wuna, lanjut dia, berkomitmen menolak segala bentuk politisasi dan intervensi kelembagaan.
“Program kami berangkat dari aspirasi masyarakat agar implementasinya benar-benar menjawab tantangan nyata di desa. Fokus kami adalah reformasi esensi paguyuban sebagai wadah silaturahmi, pengembangan, dan pemberdayaan,” tegasnya.
Dengan kepercayaan yang telah diberikan masyarakat, pengurus baru HITELA Wuna berkomitmen menghadirkan program-program progresif yang selaras dengan visi dan misi organisasi. Mereka juga menyatakan siap menjadi mitra kritis sekaligus oposisi yang sehat bagi Pemerintah Desa Wuna.
Menutup pernyataannya, Anjas menyampaikan apresiasi kepada senior alumni dan seluruh pihak yang telah mendukung terselenggaranya pelantikan.
“Harapannya, HITELA Wuna ke depan semakin berani melakukan terobosan dan mampu memulihkan esensi paguyuban itu sendiri,” pungkasnya.**
