LIPUTANSULTRA,— Di tengah kemeriahan agenda internasional UCLG ASPAC di Kota Kendari, warga justru kembali dihantui banjir yang merendam sejumlah wilayah, memunculkan sorotan tajam terhadap persoalan lama yang belum terselesaikan.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, masyarakat di Kelurahan Lepo-Lepo, Kecamatan Baruga, kembali dihantam banjir akibat meluapnya Kali Wanggu.

Air yang masuk ke permukiman warga bukan hanya membawa genangan, tetapi juga sedimentasi yang dinilai semakin parah dari waktu ke waktu.

Bagi warga, peristiwa tersebut bukan lagi kejadian baru.

hal ini telah menjadi persoalan berulang, hingga kini belum mampu diselesaikan secara serius oleh pemerintah.

Salah seorang warga, mengatakan masyarakat mulai lelah dengan kondisi yang terus berulang setiap musim hujan datang.

“Ini sudah seperti langganan tahunan. Setiap hujan deras kami selalu waswas karena air cepat meluap. Sampai sekarang belum ada penyelesaian yang benar-benar terasa,”ujar salah satu warga terdampak yang enggan disebut namanya.

Di tengah aktivitas seremonial pembangunan kota, warga menilai persoalan lingkungan dan keselamatan masyarakat seharusnya tidak dipandang sebagai isu pinggiran.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Nawasena Enviro Andi Zulkifli menilai kondisi banjir yang kini disertai sedimentasi dan lumpur yang cukup tebal.

Menurutnya, kondisi itu diduga berkaitan dengan marakanya aktivitas pembukaan lahan di kawasan sekitar.

“Berdasarkan hasil investigasi lapangan kami, Sekarang bukan cuma banjir air tapi lumpur juga ikut turun. Kami duga kuat ada dampak dari aktivitas land clearing atau pembukaan lahan yang kurang memperhatikan kondisi lingkungan dan tidak optimalnya pengawasan dari Pemkot Kendari,”katanya.

Ia menegaskan bahwa banjir yang terus berulang menjadi peringatan bahwa pembangunan perkotaan tidak boleh mengabaikan daya dukung lingkungan.

“Jangan sampai kota hanya dipoles untuk terlihat baik di hadapan tamu dan kegiatan seremonial, sementara di sisi lain masyarakat terus hidup dalam ancaman banjir yang belum terselesaikan,” tegasnya.

Andi Zulkifli menambahkan pemerintah perlu lebih serius mengevaluasi tata ruang, sistem drainase, hingga aktivitas pembukaan lahan yang berpotensi memperparah aliran air dan sedimentasi di kawasan permukiman warga.

“Pembangunan yang baik bukan hanya soal infrastruktur yang terlihat megah, tetapi sejauh mana masyarakat merasa aman dan terlindungi dari persoalan lingkungan yang terus berulang. Pemerintah Kota Kendari harus mengevaluasi tata ruang kota dan memperketat pengawasan terhadap pelaku-pelaku usaha tidak tertib dalam pembukaan lahan,”Tutupnya.**

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *