BOMBANA, KABENGGA.ID — Proyek pembangunan box culvert atau jembatan pada ruas jalan provinsi di Desa Batuputih, Kecamatan Poleang Selatan, Kabupaten Bombana, Sulawesi Tenggara, kini menjadi sorotan tajam masyarakat. Proyek yang seharusnya menghadirkan kemudahan akses justru berubah menjadi simbol kelalaian dan buruknya tanggung jawab pemerintah terhadap keselamatan warga.
Hampir dua bulan terakhir, sejumlah titik jalan dibiarkan terbuka tanpa kejelasan penyelesaian. Kondisi tersebut membuat akses utama masyarakat berubah menjadi jalur berbahaya yang setiap hari mengancam keselamatan pengguna jalan, terutama saat malam hari karena minim penerangan dan tanpa pengamanan memadai.
Ironisnya, hingga kini warga mengaku tidak lagi melihat aktivitas pengerjaan di lokasi proyek. Situasi itu memunculkan kemarahan sekaligus tanda tanya besar di tengah masyarakat.
“Kalau proyek ini memang untuk kepentingan masyarakat, kenapa masyarakat justru dijadikan korban? Jalan digali lalu ditinggalkan begitu saja tanpa kejelasan. Ini bukan pembangunan, ini pembiaran,” kata Risno, warga Desa Batuputih.
Berdasarkan informasi yang dihimpun dari warga setempat, para pekerja proyek disebut telah dialihkan untuk fokus mengerjakan proyek di wilayah Boepinang. Sementara pekerjaan di Desa Batuputih seolah ditinggalkan tanpa penjelasan resmi dari pihak terkait.
Jika informasi tersebut benar, masyarakat menilai pemerintah telah gagal menempatkan keselamatan rakyat sebagai prioritas utama. Sebab persoalan ini bukan lagi sekadar keterlambatan teknis proyek, melainkan menyangkut tanggung jawab moral terhadap keselamatan publik.
Kritik keras juga datang dari kalangan mahasiswa dan pemuda desa. Supardi, mahasiswa asal Desa Batuputih, menilai pembiaran proyek selama hampir dua bulan merupakan bentuk ketidakseriusan pemerintah yang tidak bisa lagi ditoleransi.
“Jangan jadikan masyarakat Batuputih sebagai korban dari proyek yang tidak jelas arah penyelesaiannya. Jalan provinsi adalah akses vital rakyat, bukan lubang penderitaan yang dibiarkan menganga tanpa tanggung jawab. Ketika proyek digali lalu ditinggalkan begitu saja, maka pemerintah sedang mempertontonkan kegagalannya dalam mengelola kepentingan publik,” tegasnya.
Menurutnya, diamnya pemerintah terhadap kondisi tersebut menunjukkan rendahnya sensitivitas terhadap penderitaan masyarakat kecil yang setiap hari dipaksa menghadapi risiko akibat proyek terbengkalai.
Mahasiswa dan pemuda Desa Batuputih pun memberikan ultimatum kepada pemerintah provinsi maupun pihak pelaksana proyek agar segera turun langsung meninjau kondisi lapangan dan melanjutkan pekerjaan yang mangkrak. Mereka menegaskan, apabila dalam waktu dekat tidak ada tindakan nyata maupun penjelasan resmi, masyarakat akan melakukan protes terbuka dan membawa persoalan tersebut ke pihak berwenang.
Kekecewaan warga terus memuncak karena hingga hari ini masyarakat merasa hanya disuguhi janji tanpa kepastian. Bagi warga, yang dibutuhkan saat ini bukan lagi seremoni dan pernyataan normatif, melainkan tindakan nyata serta tanggung jawab yang jelas.
Sebab ketika jalan rakyat dibiarkan rusak dan terbengkalai, yang sesungguhnya ikut hancur bukan hanya infrastruktur, tetapi juga kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah.(redaksi).
