Bombana – Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Cabang Bombana kembali menegaskan sikap tegas atas dugaan tindakan represif aparat terhadap massa aksi penolakan pembangunan industri di Desa Wubangka, Kecamatan Rarowatu Utara.
Penghadangan massa di depan Polres Bombana dinilai bukan sekadar langkah pengamanan, melainkan bentuk pembungkaman terhadap aspirasi rakyat. Massa yang datang untuk menyampaikan tuntutan secara damai disebut justru dipagari, diintimidasi, dan diperlakukan seolah menjadi ancaman.
Pengurus DPC GMNI Bombana, Maikel, menyebut peristiwa tersebut sebagai simbol kemunduran demokrasi di daerah.
“Kami hadir membawa suara rakyat Desa Wubangka, bukan membawa senjata. Namun yang kami hadapi adalah arogansi dan intimidasi. Ini bukan pengamanan, ini represi terang-terangan,” tegasnya.
Menurutnya, ketika aparat berdiri menghadang rakyatnya sendiri, yang dipertahankan bukan lagi hukum dan ketertiban, melainkan kepentingan industri yang dinilai mengancam ruang hidup masyarakat.
Ultimatum Terbuka kepada Kapolri
DPC GMNI Bombana secara resmi menyampaikan ultimatum kepada Kepolisian Negara Republik Indonesia agar segera:
- Memeriksa dan mencopot Kapolres Bombana yang terlibat langsung dalam penghadangan massa aksi.
- Melakukan reformasi menyeluruh di tubuh Polres Bombana agar kembali berpihak pada rakyat, bukan pada kepentingan modal.
- Menjamin hak konstitusional warga Desa Wubangka untuk menyampaikan pendapat tanpa intimidasi maupun kriminalisasi.
“Jika tidak ada langkah tegas, publik akan menilai ada pembiaran terhadap praktik represi di daerah. Ini preseden buruk bagi demokrasi,” lanjut Maikel.
Peringatan untuk Polda Sulawesi Tenggara
GMNI Bombana juga menegaskan, apabila tidak ada atensi serius dari Polda Sulawesi Tenggara atas dugaan tindakan represif tersebut, pihaknya siap mengonsolidasikan kekuatan mahasiswa dan rakyat secara lebih luas.
“Kami akan membangun konsolidasi besar-besaran dan tidak menutup kemungkinan membawa persoalan ini hingga aksi demonstrasi di Mabes Polri di Jakarta. Ini bukan ancaman, ini komitmen perjuangan,” tegasnya.
Bagi GMNI Bombana, perjuangan rakyat Desa Wubangka bukan sekadar isu lokal, melainkan bagian dari gerakan nasional melawan perampasan tanah dan eksploitasi sumber daya alam.
“Kami berdiri di barisan rakyat. Ketika suara rakyat dibungkam, maka tugas mahasiswa adalah memastikan suara itu menggema lebih keras. Demokrasi tidak boleh dikalahkan oleh kepentingan modal,” tutup Maikel.
