KOLAKA – Pelayaran dini hari yang seharusnya rutin berubah menjadi momen mencekam di perairan Teluk Bone. Kapal penyeberangan KMP Mandala terpaksa membatalkan penyeberangan menuju Bajoe pada Jumat (13/2/2026) setelah dihantam cuaca ekstrem dan gelombang tinggi.

Di tengah gelapnya laut dan terpaan ombak yang tak bersahabat, sejumlah kendaraan berat di dalam dek kapal dilaporkan terbalik akibat guncangan hebat.

Kapal akhirnya memutar haluan dan kembali ke Pelabuhan Ferry Kolaka sekitar pukul 06.30 WITA. Seluruh penumpang dan awak kapal dipastikan selamat. Namun, insiden ini menyisakan tanda tanya besar soal standar pengamanan kendaraan dan mitigasi pelayaran saat cuaca ekstrem.

Ombak Menggila, Kapal Tak Kuasa Melawan

Menurut keterangan nakhoda, keputusan kembali ke Kolaka diambil setelah mempertimbangkan risiko keselamatan yang semakin besar.

“Demi keselamatan penumpang dan kru, kami putuskan untuk kembali,” ujarnya.

Keputusan itu bukan tanpa alasan. Perairan Teluk Bone dikenal memiliki karakter gelombang yang cepat berubah, terutama saat angin kencang melanda pada dini hari.

Namun, yang menjadi sorotan adalah kondisi di dalam lambung kapal. Beberapa unit truk dan bus dilaporkan terjungkal dan berhimpitan satu sama lain. Guncangan diduga cukup kuat untuk melonggarkan sistem pengikat kendaraan.

Apakah prosedur pengamanan kendaraan telah dilakukan sesuai standar? Pertanyaan ini kini mengemuka di kalangan pengguna jasa penyeberangan.

Kerusakan Material dan Investigasi Awal

Begitu kapal sandar, aparat kepolisian bersama petugas pelabuhan langsung mengamankan area. Proses penurunan penumpang dilakukan dengan pengawasan ketat guna mencegah kepanikan lanjutan.

Hingga berita ini diturunkan, evakuasi kendaraan masih berlangsung. Pihak berwenang belum merinci:

Jumlah pasti kendaraan yang terbalik

Nilai kerugian material

Dugaan awal penyebab lepasnya kendaraan dari pengaman

Absennya data resmi membuka ruang spekulasi, namun otoritas diminta segera memberikan penjelasan transparan guna meredam keresahan publik.

Alarm Keselamatan Penyeberangan?

Insiden ini menjadi pengingat keras bahwa jalur penyeberangan Kolaka–Bajoe bukan sekadar lintasan rutin, melainkan jalur yang menuntut kesiapsiagaan penuh terhadap dinamika cuaca.

Cuaca ekstrem memang faktor alam yang tak bisa dikendalikan. Namun, sistem keselamatan, pengikatan kendaraan, hingga keputusan berlayar dalam kondisi tertentu sepenuhnya berada dalam ranah manajemen operasional.

Publik kini menunggu:
Apakah ini semata bencana alam?
Atau ada celah prosedur yang perlu dievaluasi.(redaksi).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *