KABUPATEN BUTON – “Kita memiliki kekuatan alam yang besar, sekarang saatnya kita bangkit dan mengelolanya secara profesional untuk kesejahteraan bersama.” Demikian kata Faisal Tumada dalam paparan mengenai strategi kebijakan pengembangan potensi pertanian dan perikanan di Desa Tumada, Kecamatan Kapontori, Kabupaten Buton.

Dengan luas wilayah sekitar 27,60 km², desa yang menjadi tempat tinggalnya ini memiliki potensi sumber daya alam yang cukup besar di sektor pertanian dan perikanan, yang menjadi sandaran ekonomi sebagian besar masyarakat.

“KELAPA ADALAH KEKAYAAN KITA YANG PERLU DIGARAP”

Menurut Faisal Tumada, kelapa menjadi komoditas unggulan Desa Tumada yang didukung oleh kondisi tanah subur dan iklim tropis. “Kelapa bukan hanya buah segar saja. Kita bisa olah jadi kopra, minyak kelapa, VCO, bahkan gula merah dari nira. Bahkan sabut dan tempurungnya bisa jadi produk bernilai tambah,” jelasnya.

Ia menambahkan, dengan pendekatan agribisnis, kelapa diharapkan dapat meningkatkan Pendapatan Asli Desa (PAD) sekaligus membuka peluang usaha bagi pemuda desa. Selain kelapa, tanaman pangan seperti jagung dan umbi-umbian juga berpotensi dikembangkan untuk memperkuat ketahanan pangan lokal.

“PERIKANAN KITA FOKUS PADA PERIKANAN TANGKAP”

Dari sisi kelautan, Faisal menjelaskan bahwa Desa Tumada memiliki potensi perikanan tangkap, meskipun kondisi perairan tidak memungkinkan budidaya rumput laut secara optimal. “Karena faktor teknis seperti arus dan dasar perairan, kita akan fokus pada empat hal: penguatan armada nelayan kecil, bantuan alat tangkap ramah lingkungan, penyimpanan dingin untuk menjaga kualitas hasil tangkapan, dan membuka akses pemasaran ke kabupaten maupun kota terdekat,” ucapnya.

ENAM LANGKAH STRATEGIS UNTUK MEWUJUDKAN DESA MANDIRI

Faisal Tumada menguraikan enam rekomendasi kebijakan yang perlu dilakukan pemerintah desa:

1. Pemetaan Potensi Secara Menyeluruh – “Kita perlu mendata lahan produktif, jumlah pohon kelapa, potensi tangkapan nelayan, dan kebutuhan sarana produksi sebagai dasar perencanaan yang jelas,” katanya.
2. Pembentukan dan Penguatan Kelompok Tani – “Kelompok tani harus diperkuat agar kita punya posisi tawar yang baik saat menentukan harga dan bekerja sama dengan pembeli atau investor,” tambahnya.
3. Pengolahan Produk Turunan – “Jangan sampai kita hanya menjual bahan mentah. Kita dorong pembuatan unit usaha kecil untuk produksi minyak kelapa atau gula merah,” jelas Faisal.
4. Pemanfaatan Dana Desa untuk Infrastruktur Produktif – “Dana Desa harus dialokasikan pada hal-hal yang bermanfaat seperti jalan usaha tani, gudang penyimpanan, dan sarana pendukung nelayan,” ucapnya.
5. Kerja Sama dengan Pemerintah Kabupaten – “Kita perlu aktif berkoordinasi dengan dinas pertanian dan perikanan untuk mendapatkan pelatihan, bibit unggul, dan bantuan alat produksi,” tandasnya.
6. Pemberdayaan Pemuda Desa – “Pemuda kita bisa jadi agen perubahan dengan memanfaatkan teknologi untuk pemasaran digital, sehingga produk kita bisa menjangkau pasar lebih luas,” tambahnya.

“Sudah saatnya kita bangkit bersama”
Menutup paparannya, Faisal Tumada menegaskan bahwa potensi Desa Tumada tidak akan berkembang tanpa perencanaan matang dan komitmen bersama. “Dengan pengelolaan yang transparan dan berorientasi pada kesejahteraan bersama, Desa Tumada bisa jadi contoh desa mandiri di Kecamatan Kapontori yang bertumpu pada kekuatan ekonomi lokal,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *