Kendari – Percepatan penurunan angka stunting di Sulawesi Tenggara terus diperkuat melalui kolaborasi lintas sektor.
Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Provinsi Sulawesi Tenggara bersama Alfamidi menyalurkan bantuan bahan pangan bergizi berupa telur ayam kepada 20 kepala keluarga di Kelurahan Watubangga, Kecamatan Baruga, Kota Kendari, Selasa (23/6).
Penyerahan bantuan yang dipusatkan di salah satu rumah warga tersebut merupakan bagian dari dukungan terhadap program prioritas nasional.
Kegiatan ini dalam pencegahan dan penanganan stunting, khususnya bagi keluarga yang masuk kategori berisiko stunting.
Kepala BKKBN Sultra, Asmar, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bentuk kolaborasi strategis antara BKKBN Sultra dan Alfamidi melalui Program Protein Cegah Stunting yang sejalan dengan Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (Genting) yang diinisiasi BKKBN.
Menurutnya, keterlibatan sektor swasta menjadi faktor penting dalam memperluas jangkauan intervensi gizi kepada masyarakat yang membutuhkan.
“Program ini merupakan wujud sinergi antara BKKBN dan Alfamidi dalam mendukung percepatan penurunan stunting. Kami mengapresiasi keterlibatan mitra yang memiliki kepedulian terhadap pemenuhan gizi masyarakat, khususnya bagi keluarga yang berisiko mengalami stunting,” ujar Asmar.
Ia menjelaskan, bantuan yang diberikan berupa telur ayam sebagai sumber protein hewani yang memiliki peran penting dalam mendukung pertumbuhan dan perkembangan anak, terutama pada masa seribu hari pertama kehidupan.
“Melalui bantuan ini, kami ingin memastikan keluarga sasaran memperoleh asupan protein yang cukup. Intervensi gizi menjadi salah satu langkah yang efektif untuk mencegah terjadinya stunting sejak dini,” katanya.
Asmar menambahkan, program tersebut menyasar kelompok yang menjadi fokus utama pencegahan stunting, yakni ibu hamil, ibu menyusui, bayi di bawah dua tahun (baduta), serta balita.
“Kelompok sasaran ini merupakan fase yang sangat menentukan kualitas tumbuh kembang anak. Karena itu, dukungan nutrisi yang memadai harus menjadi perhatian bersama,” tambahnya.
Lebih lanjut, ia mengungkapkan bahwa berbagai program yang dijalankan BKKBN selama beberapa tahun terakhir telah memberikan dampak positif terhadap penurunan prevalensi stunting di Sultra.
Berdasarkan data yang dimiliki BKKBN, angka stunting di Sultra yang sebelumnya berada di kisaran 30 persen berhasil ditekan menjadi sekitar 21 persen pada tahun 2024.
“Penurunan ini menunjukkan bahwa intervensi yang dilakukan selama ini telah berjalan ke arah yang positif. Namun pekerjaan kita belum selesai,” ungkapnya. (redaksi)
