Kendari, Kabengga. Id – Peresmian food court modern di FISIP UHO justru menuai kritik tajam dari kalangan mahasiswa. Mentri Pergerakan BEM FISIP UHO, Dion, menilai kebijakan tersebut mencerminkan kegagalan birokrasi dalam membaca kebutuhan riil mahasiswa yang hingga hari ini masih berkutat pada persoalan mendasar, seperti ruang perkuliahan yang panas tanpa fasilitas pendingin ruangan yang memadai.

Dion menegaskan bahwa kondisi ruang kelas yang tidak layak sudah lama dikeluhkan mahasiswa, namun terus diabaikan tanpa solusi konkret. Ironisnya, di tengah keluhan tersebut, birokrasi justru menghadirkan food court modern yang dinilai lebih bersifat simbolik daripada solutif. “Ini bukan soal pembangunan, tapi soal keberpihakan. Ketika mahasiswa dipaksa belajar dalam kondisi tidak nyaman, lalu kampus membangun fasilitas yang tidak menyentuh kebutuhan utama, maka itu adalah bentuk pengabaian yang nyata,” tegasnya.

Ia juga menilai dalih menghadirkan ruang diskusi melalui food court adalah argumentasi yang lemah, mengingat sebelumnya telah tersedia kantin yang masih layak dan fungsional sebagai ruang interaksi mahasiswa. Menurutnya, kebijakan ini memperlihatkan adanya ketimpangan prioritas yang mencolok, di mana kebutuhan akademik justru dikalahkan oleh proyek-proyek yang tidak mendesak.

Lebih jauh, Dion mendesak agar birokrasi FISIP UHO segera menghentikan pola pembangunan yang tidak berbasis kebutuhan mahasiswa. Ia menekankan bahwa kampus seharusnya menjadi ruang yang menjamin kenyamanan belajar, bukan sekadar etalase pembangunan fisik. “Jika kebutuhan dasar seperti pendingin ruangan saja tidak mampu dipenuhi, maka patut dipertanyakan untuk siapa sebenarnya pembangunan ini dilakukan,” tutupnya dengan nada keras.(redaksi).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *