Kendari -Kericuhan mewarnai upaya eksekusi lahan yang dilakukan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulawesi Tenggara (Sultra) di kediaman mantan Gubernur Sultra, Nur Alam, di Kota Kendari, Kamis (22/1/2026).
Nur Alam bahkan sempat tersulut emosi hingga membuka baju sebagai bentuk protes atas tindakan Pemprov Sultra. Ia menilai upaya eksekusi tersebut tidak memiliki etika.
“Saya berhenti jadi gubernur, tidak ada satu pun aset yang saya pake, bukan soal tidak mau, ini masalah etika, masalah etik, hargai dong kita ini orang tua,” ucap Nur Alam yang sudah tersulut emosi.
Ia mengatakan, aset Pemprov Sultra yang sedang dikuasainya, sedang dalam proses sehingga dirinya menegaskan agar Pemprov Sultra tidak sewenang-sewenang melakukan eksekusi.
“Ini mantan Kadis Transmigrasi, dia tahu semua proses administrasinya sedang berjalan, jangan langsung main potong di jalan. Pretensinya apa, banyak aset yang di pinggir jalan stadion Lakidende, PGSD kenapa bukan itu yang dieksekusi,” tegasnya.
Di akhir pernyataannya, Nur Alam meminta pihak Pemprov Sultra untuk tidak melanjutkan eksekusi lahan.
“Jika kalian pahami, tolong pulang ke rumah, tenang-tenang. Biar ada proses administrasi dijalankan dengan baik,” tukasnya. (redaksi)
