Kendari – Pihak SMA Negeri 1 Konawe Selatan (Konsel), Sulawesi Tenggara (Sultra) membantah telah mengeluarkan dua orang siswa yakni Muhammad Al Fatir Pahreza dan Revan.

Bantahan tersebut disampaikan Wakil Kepala Sekolah (Wakasek) Bidang Kesiswaan SMA Negeri 1 Konsel Risnayanti, S.Pd, Gr kepada Kabengga, id, Jumat (9/10) mengklarifikasi berita yang beredar di masyarakat yang menurutnya adalah berita bohong atau hoax.

“Tidak benar kalau kami telah mengeluarkan kedua siswa yang bersangkutan melainkan dipindahkan ke sekolah lain yakni Fatir dipindahkan ke SMAN 22 Konsel di Roraya dan Revan di SMAN 19 Konsel di Moolo Indah,” tandas Wakasek dengan nada tegas.

Padahal pihak sekolah telah melakukan pembinaan secara maksimal bahkan meminta bantuan kepada orangtua siswa termasuk pemberian kebijaksanaan berulang – ulang tapi sayangnya pembinaan dan kebijaksanaan sekolah tidak membuat kedua siswa sadar bahkan kelakuan mereka makin menjadi – jadi.

Oleh karena itu dirinya kaget tiba – tiba ada berita di medsos kalau pihak SMAN 1 Konsel mengeluarkan dua orang siswa secara sepihak dan tidak berdasar.

Lebih lanjut Wakasek menguraikan pelanggaran yang dilakukan Fatir sehingga sekolah sampai pada kesimpulan memindahkan mereka ke SMA lain.

Pertama Fatir meroko di sekolah, tidak pernah mengerjakan tugas yang diberikan guru mata pelajaran (mapel) kemudian melakukan perlawanan kepada guru dan satpam sekolah.

Dirinya mencontohkan saat apel pagi pada hari Senin Fatir ditemukan Satpam sedang tidur di ruang kelas lalu dibangunkan oleh satpam dengan menepuk bagian tubuh Fatir kemudian Fatir bangun dan merespon tepukan satpam secara spontan melakukan perlawanan.

Sewaktu menghadap kepada wakasek kesiswaan Fatir mengaku kalau satpam memukulnya yang kemudian dibantah oleh satpam.

“Saya tidak memukulnya bu, saya menepuk badanya supaya bangun mengikuti apel pagi,” kata wakasek menirukan ucapan satpam.

Usai kejadian dengan satpam selanjutnya pihak sekolah melakukan evaluasi dan dengan mempertimbangkan berbagai pelanggaran yang telah dilakukan dan keluhan guru mapel Fatir kemudian dipindahkan ke SMAN 22 Konsel.

Pihak sekolah melalui operator sekolah membantu proses kepindahan Fatir.

Lalu masuk ajaran baru tahun 2026 – 2027 Fatir kembali masuk ke SMAN 1 Konsel setelah kepala sekolah saat itu masih Asmudin, S.Pd, M.Pd, MM membijaksanai.

Kebijaksanaan diberikan setelah orangtua Fatir menghadap kepada kepala sekolah dan memohon dengan alasan jarak dan biaya transportasi dari Tinanggea ke Roraya, atas dasar itu Fatir lalu masuk kembali di SMAN 1 Konsel tepatnya di kelas X sedangkan data dapodiknya masih di SMAN 22 Konsel.

“Jadi posisinya kami sudah terima kembali dan diizinkan mengikuti proses belajar,” ungkapnya.

Sayangnya setelah masuk Fatir mulai lagi melanggar tata tertib sekolah seperti loncat pagar sekolah terlambat masuk sekolah padahal saat diterima kembali sudah diingatkan agar tidak melanggar aturan sekolah.

Meski begitu pihak sekolah tetap membina dengan tidak mempersoalkan kasus loncat pagar dan sering terlambat masuk sekolah.

Bukan itu saja saat salah seorang ibu guru masuk mengajar di kelas, Fatir mengajak debat dengan ibu guru kemudian ibu guru yang bersangkutan menghadap kepada wakasek kesiswaan dengan mengatakan tidak mau lagi mengajar di kelas Fatir. Meski begitu pihak sekolah tetap mentolerir.

Puncaknya terjadi saat peringatan Maulid Nabi di aula sekolah dimana semua siswa muslim di arahkan ke aula.

Untuk memastikan semua siswa masuk aula ibu guru agama dan satpam melakukan pengecekan kemudian menemukan Fatir dan Revan di kantin sekolah.

Pak satpam dan ibu guru agama menyuruh Fatir dan Revan masuk aula.

Berdasarkan informasi yang diberikan Revan diperoleh informasi kalau Fatir yang memulai mengajak satpam dengan berkata ” Kita pukulmi saya”, Fatir lalu keluar kantin dan mengambil batu untuk menyerang satpam. Untungnya waktu itu dilerai Revan dan ibu guru agama bahkan melawan ibu guru agama.

Atas kejadian tersebut kemudian pihak sekolah melakukan pertemuan untuk mendengarkan pendapat dan masukan.

Hasil pertemuan semua dewan guru dan staf disimpulkan kalau Fatir tidak bisa lagi dibina.

Pertimbanganya untuk menghindari hal – hal yang tidak diinginkan apalagi juga guru – guru hampir habis kesabaran akhirnya saat itu juga diputuskan Fatir dipindahkan lagi ke SMAN 22 Konsel.

Kemudian orangtua Fatir dipanggil menghadap pak Asmudin dan dijelaskan kalau Fatir dipindahkan ke SMAN 22 Konsel.

Saat menghadap kepala sekolah ibu Fatir memohon untuk meminta maaf kepada guru yang telah dikecewakan Fatir pak Asmudin mengizinkan.

“Tentu saja kami para guru memberi maaf atas perbuatan Fatir selama ini apalagi yang meminta maaf orangtua Fatir.
Hanya ibu Fatir menyala artikan dikiranya setelah meminta maaf dan dimaafkan Fatir sudah bisa masuk kembali belajar,” terang Risna.

” Ada mistafsir atau salah memahami permintaan maaf, tentu saja kita maafkan tapi tidak berarti Fatir diterima kembali masuk di SMAN 1 Konsel,” terang Wakasek.

Pihak sekolah lalu mengclearkan masalaah tersebut dengan mengutus Wakasek Humas dan walikelasnya ke rumah orangtua Fatir untuk memberikan penjelasan kalau permintaan maaf ibu Fatir diterima tapi tidak berarti Fatir bisa masuk kembali lagi,” paparnya.

Waktu itu, ibu Fatir memahami dan mengatakan akan memindahkan anaknya sekolah di Jakarta.

“Jadi disimpulkan persoalan Fatir tuntas, tapi tiba – tiba muncul berita dimedsos kalau pihak sekolah mengeluarkan secara sepihak,” ujarnya.

Sedangkan pelanggaran yang dilakukan siswa Revan juga fatal sehingga dipindahkan ke SMAN 19 Konsel salah satunya mau memukul wali kelasnya atas nama Arwan Toondu untungnya waktu itu dilerai kepala sekola.

Berselang 1 tahun kemudian orangtua Revan menghadap ke kepala sekolah dengan alasan jarak Tinanggea – Moolo Indah dan biaya transportasi.

Lalu kepala sekolah memanggil wakasek dan Humas dan guru BK serta mantan wali kelasnya kami bermusyawarah.

Dalam musyawarah ada yang mengusulkan agar mencari tahu bagaimana Revan di SMAN 19 dan berdasarkan informasi dari guru SMAN 19 didapatkan kalau kelakuan Revan sama seperti waktu di SMAN 1 Konsel yakni jarang masuk sekolah, tidak mengerjakan tugas yang diberikan guru mapel sehingga saat itu juga diputuskan untuk tidak terima kembali di SMAN 1 Konsel.

Tapi kemudian orangtua Revan datang ke sekolah memohon kepada kepala sekolah agar Revan diterima kembali di SMAN 1 Konsel, kepala sekolah memberikan lagi kebijaksanaan dan Revan masuk kembali ke SMAN 1 Konsel tapi lagi – lagi bermasalah dikehadirannya tidak mengerjakan tugas masuk sekolah semaunya masuk sekolah. Dia aktif ke sekolah kalau mau ulangan akhir semester, sehingga saat penaikan kelas Revan tidak naik kelas dan tetap di kelas X, jadi Revan dua kali tidak naik kelas seharusnya sudah di kelas XII.

Revan dan Fatir kerap sama – sama seperti waktu locat pagar dan terlambat termasuk waktu bermasalah dengan satpam.

“Kalau ada yang berkomentar kami tidak memberikan kebijaksanaan itu keterlaluan, kurang bijaksana apa lagi pihak sekolah,” cetusnya.

Itu pun orangtua Revan masih sempat datang lagi ke sekolah tapi tidak bertemu kepala sekolah karena saat itu sementara proses pergantian dari kepala sekolah Asmudin ke Asrin Rendelangi sebagai Plt Kepala Sekolah SMAN 1 Konawe Selatan.

“Waktu itu yang menerima orangtua Revan masing – masing Wakasek Kesiswaan, Wakasek Kurikulum dan Humas. Saat itu orangtua Revan diberi penjelasan kalau anaknya tidak bisa lagi kembali ke SMAN 1 Konsel.

Selanjutnya pihak sekolah membantu kepindahan ke sekolah lain.

Ditambahkan Risna kemudian ada LSM yang selalu menelpon Plt kepala sekolah menanyakan kasus kedua dua siswa tersebut tentu saja pak plt tidak tau karena baru akhir September menjadi plt, selanjutnya pak plt mengkonfirmasi ke wakasek kesiswaan soal dua orang siswa yang dipindahkan.

” LSM selalu menelpon pak plt tentu saja pak plt terganggu, saya mengajak LSM ke sekolah untuk mengklarifikasi persoalan tersebut karena kami punya data tapi LSM tidak datang,” tutupnya.

Dirinya berharap dengan adanya klarifikasi semua pihak memahami bagaimana kedua siswa sampai dipindahkan ke sekolah lain sehingga duduk persoalanya menjadi terang benderang. (redaksi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *