JAKARTA ,KABENGGA.ID.— Tren pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) belum menunjukkan tanda mereda. Pada pembukaan perdagangan Kamis, rupiah kembali terkoreksi 43 poin atau 0,24 persen hingga berada di level Rp17.739 per dolar AS.
Posisi tersebut lebih lemah dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya yang berada di level Rp17.696 per dolar AS. Pergerakan ini memperpanjang tren pelemahan rupiah yang telah berlangsung sejak akhir pekan lalu.
Pada Jumat (11/9), rupiah tercatat berada di level Rp17.585 per dolar AS setelah melemah 38 poin. Tekanan terhadap mata uang Garuda kemudian berlanjut pada perdagangan Rabu.
Pada pembukaan perdagangan Rabu, rupiah melemah 36 poin atau 0,20 persen ke level Rp17.730 per dolar AS. Pelemahan tersebut berlanjut hingga penutupan pasar, meski dalam skala lebih terbatas.
Rupiah ditutup di level Rp17.696 per dolar AS, melemah 2 poin atau 0,01 persen dibandingkan posisi penutupan sebelumnya di level Rp17.694 per dolar AS.
Tekanan juga tercermin dari pergerakan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia. Kurs referensi tersebut bergerak melemah ke level Rp17.712 per dolar AS, dari sebelumnya Rp17.687 per dolar AS.
Rangkaian pergerakan tersebut menunjukkan rupiah masih berada dalam tekanan terhadap dolar AS dalam beberapa sesi perdagangan terakhir. Penguatan dolar dan dinamika pasar valuta asing menjadi faktor yang terus dicermati pelaku pasar karena pergerakan kurs dapat berdampak pada biaya impor, kebutuhan pembayaran dalam dolar, hingga tekanan terhadap harga barang tertentu.
Dengan posisi rupiah yang kembali melemah pada awal perdagangan Kamis, perhatian pasar kini tertuju pada arah pergerakan mata uang Garuda sepanjang sesi perdagangan dan bagaimana otoritas moneter merespons dinamika pasar valuta asing.(redaksi.
