Kendari – Massa dari LSM Pribumi Sultra mengepung kantor Kejati Sulawesi Tenggara (Sultra) dari dua sisi, Kamis (7/5).
Aksi massa Pribumi dilakukan untuk mendesak Kejati Sultra untuk menangani kasus dugaan korupsi pj Sekda Bombana dr. Sunandar.
Selain itu mereka mendesak Kajati Sultra untuk mencopot Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Bombana.
Massa yang dikomandoi oleh Dirman sebagai jenderal lapangan terus berorasi secara bergantian sejak pukul 09.30 Wita dengan menampilkan para orator handal dan ternama di Kota Kendari bahkan se – Sultra.
Para orator secara bergantian menyampaikan desakan agar polemik Sekda Bombana segera diambil alih oleh Kejati Sultra yang selama ini ditangani oleh Kejari Bombana.
Para orator mengemukakan Kajari Bombana tidak mampu menangani persoalan tersebut dan kuat dugaan telah terjadi main mata antara kejati dengan bupati dan pj sekda Bombana.
Massa membakar ban yang berlangsung selama kurang lebih enam jam sehingga pintu masuk utama lumpuh total.
Akibatnya kantor kejati Sultra nyaris tak terlihat akibat tertutup asap panas yang membubung tinggi, bahkan logo timbangan kejaksaan yang menempel kokoh di pintu utama tak terlihat jelas.
Kondisi tersebut makin diperparah dengan tiupun angin hingga asap menutupi sekitar kantor kejati.
Aksi mulia Pribumi ini mendapat perhatian serius dari pemgguna jalan yang lewat bahkan berhenti menyaksikan aksi tersebut.
Beberapa warga kota yang diminta pendapatnya mengatakan kalau kinerja bagus tidak mungkin adik -adik turun aksi.
“Kalo menurut saya, mungkin adik – adik LSM Pribumi turun demo karena ada mereka temukan masalah di Kajari Bombana,” kata Ima sambil berlalu dengan motor maticnya.
Ada warga yang terbilang berani mengatakan pemerintah Bombana yang bermasalah warga kota yang merasakan.
“Iya memang mereka (pemerintah Bombana – red) bikin masalah kami yang di Kendari kena dampak, dampak ya seperti sekarang ini mau ke Mandonga harus memutar, mana kita lagi buru – buru,” ujar seorang perempuan muda yang mengaku bernama Susi.
Meski Polres Kendari yang menurunkan dalmas dan wator cannon mencoba melerai aksi bakar ban bekas aksi tetap berjalan.
Tak sampai disitu massa juga memblokade jalan di depan kantor kejaksaan bahkan massa sampai memblokade jalur duanya hingga jalan sempat tidak bisa dilalui kendaraan.
Dirman mengatakan aksi Pribumi kali ini merupakan bentuk kekecewaan terhadap kinerja Kajari Bombana yang dianggap telah gagal melaksanakan tugas dan wewenang yang diamanatkan negara.
Ia juga mengemukakan kalau penegakan hukum di Bombana telah mati.
“Hanya masalah kecil kajari sudah tidak mampu, kalau tidak mampu lebih baik mundur,” tandas anak muda berwawasan luas ini saat diwawancarai sejumlah wartawan di lokasi aksi.
Sayangnya menurut informasi yang diperoleh Kabengga.id, Kepala Kejaksaan Tinggi Sultra tidak berada ditempat.
Setelah kantor kejati dikepung berjam – jam akhirnya pihak Kejati Sultra mau menemui massa Pribumi yang diwakili Kasie Intel Muhammad Ilham, dalam pertemuan tidak menghasilkan titik temu dan pertemuan dedlock (buntu) kedua pihak saling mempertahankan pendapat masing – masing.
Seperti diketahui kisru Pj Sekda Bombana mencuat kepermukaan saat Ketua LSM Pribumi Ansar A melaporkan hal tersebut ke Kejaksaan Tinggi Sultra 16 Desember 2025 yang berisi dugaan maladministrasi pengelolaan admintrasi, penggelapan dan penyalagunaan anggaran daerah, penyalagunaan wewenang oleh pj sekda dan dugaan keterlibatan Bupati Bombana dengan membiarkan atau mendukung maladministrasi serta penyalagunaan wewenang.
Kemudian laporàn tersebut direkomendasikan ke Kejari Bombana hingga Mei 2026.
Kepada wartawan usai diterima Kasie Intel, Ketua LSM Pribumi Ansar mengaku kecewa.
“Apa yang dijelaskan saudara kasie intel itu diluar konteks tuntutan kami ini menunjukan mereka tidak bekerja profesional bahkan terkesan berbelit belit,” ujarnya.
Aksi Massa Jilid Dua Menanti
Akibat pertemuan yang dedlock pihak Pribumi kembali akan menurunkan massa dalam jumlah yang lebih besar lagi.
Ketus Pribumi Sultra Ansar mengatakan pihaknya akan kembali melakukan aksi jilid dua dengam menurunkan massa yang lebih besar.
“Pasti kami akan menurunkan massa yang lebih besar lagi dari yang hari ini, aksi hari ini merupakan alarm (peringatan) kalau Pribumi tidak ingin bermain main dengan kasus pj sekda Bombana, apalagi aksi kami mendapat dukungan kuat masyarakat Sultra utama warga Bombana,” tegasnya.
Ditanya kenapa harus ada aksi jilid dua, Ansar yang dikenal aktifis idealis ini menerangkan kalau aksi dan perjuangan Pribumi adalah aksi murni tanpa ada embel – embel intervensi dari pihak manapun.
“Ini perjuangan murni bung, saya tidak menyerah kalau itu soal kebenaran. Bombana harus diselamatkan dari tangan – tangan kotor,” tandasnya.
Menurutnya sudah terlalu lama Bombana dimaikan oleh aktor – aktor tak bertanggungjawab, kalau bukan sekarang kapan lagi, kalau bukan Pribumi siapa lagi.
“Jadi kata selanjutnya tunggu kami di jilid kedua,” tutupnya. (redaksi)
