KENDARI — Ketua Dewan Pembina Yayasan Pendidikan Tinggi Sulawesi Tenggara (Yapertis Sultra), Nur Alam, menyaksikan langsung pelantikan Jamhir Safani sebagai Rektor Universitas Sulawesi Tenggara (Unsultra) periode 2026–2030. Dalam momen tersebut, mantan Gubernur Sultra dua periode itu secara terbuka mengungkap dinamika internal kampus yang belakangan memanas, bahkan menyinggung adanya “pengkhianatan”.
Pelantikan Jamhir Safani digelar di Pelataran Gedung Rektorat Unsultra, Jumat (23/1/2026) pagi. Prosesi dipimpin Ketua Yapertis Sultra, Oheo Kaimuddin Haris, dan dihadiri sejumlah tokoh daerah, civitas akademika, serta mahasiswa.
Dalam sambutannya, Nur Alam menegaskan bahwa pelantikan rektor telah dilaksanakan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan. Ia menyebut seluruh proses telah melalui mekanisme konsultasi dengan Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) Wilayah IX Makassar pada 6 Januari 2026.
“Pelantikan hari ini sah secara hukum. Ini merupakan hasil konsultasi dengan LLDikti menyusul adanya persoalan internal terkait administrasi yayasan yang sempat menghambat aktivitas kampus,” ujar Nur Alam di hadapan hadirin.
Ia juga menyampaikan harapannya agar kepemimpinan baru mampu membawa Unsultra keluar dari pusaran konflik internal, sekaligus memulihkan stabilitas akademik dan tata kelola institusi.
Namun, suasana berubah ketika Nur Alam secara terbuka menyinggung mantan Rektor Unsultra, Prof. Bahrun, yang diketahui pernah menjabat selama tiga periode. Menurutnya, secara prinsip keinginan Bahrun untuk kembali memimpin Unsultra untuk periode keempat masih dapat dipertimbangkan, selama ditempuh dengan cara yang baik dan tidak melanggar aturan institusi.
“Sepahit apa pun untuk kebaikan, kalau Bahrun ingin menjadi rektor empat periode dan dilakukan secara baik-baik serta tidak melanggar institusi, mungkin saya pertimbangkan. Karena bagaimana pun ada jasa-jasanya, walaupun kita harus berdebat dengan regulasi kementerian,” katanya.
Namun demikian, Nur Alam mengaku kecewa terhadap dinamika yang berkembang dalam proses pergantian kepemimpinan tersebut. Ia menegaskan adanya sikap yang ia rasakan sebagai pengkhianatan.
“Tetapi masalahnya, saya ditikam dari belakang,” tegasnya, tanpa merinci pihak yang dimaksud.
Pernyataan itu sontak menyedot perhatian para undangan dan mahasiswa yang hadir. Banyak pihak menilai, pernyataan Nur Alam mencerminkan adanya konflik laten di tubuh Unsultra yang belum sepenuhnya terselesaikan, meski kepemimpinan baru telah resmi dilantik.
Sementara itu, Rektor Unsultra terpilih, Jamhir Safani, dalam sambutan singkatnya menyatakan komitmennya untuk merajut kembali soliditas internal kampus.
“Kami akan fokus pada konsolidasi, penataan tata kelola, dan peningkatan mutu akademik. Unsultra harus kembali menjadi rumah bersama yang kondusif bagi seluruh civitas akademika,” ujarnya.
Pelantikan ini diharapkan menjadi titik awal rekonsiliasi internal Unsultra, sekaligus momentum untuk menata ulang arah kebijakan kampus agar lebih profesional, transparan, dan berorientasi pada peningkatan kualitas pendidikan tinggi di Sulawesi Tenggara.
