Kendari ll Kabengga.id – Musyawarah Daerah Ikatan Mahasiswa Pelajar Indonesia Bombana (IMPIB) Kendari yang seharusnya menjadi ruang demokrasi sehat, justru berubah menjadi ajang tarik-menarik kepentingan. Alih-alih melahirkan pemimpin berintegritas dan gagasan segar, forum ini malah melahirkan perpecahan.

“Saya dengan tegas menolak MUSDA sepihak, baik yang digelar pendukung Nurhayana maupun versi tandingan oleh Nurul Latifa Musfa. Keduanya sama-sama menunjukkan ego kelompok lebih dominan daripada cita-cita besar organisasi,” tegas salah satu kader IMPIB Kendari.

Ia menilai perpecahan ini menjadi preseden buruk. Organisasi mahasiswa yang seharusnya membangun karakter dan intelektualitas, justru dipertontonkan sebagai arena konflik yang menyalin gaya politik praktis para senior.

“Jika MUSDA hanya dijalankan dengan logika sepihak, yang lahir bukan pemimpin hasil musyawarah, melainkan produk kompromi kepentingan. Itu meruntuhkan marwah IMPIB sebagai wadah kaderisasi,” lanjutnya.

Dirinya mendesak agar semua pihak kembali ke marwah organisasi. “Jalan keluar bukan saling klaim, melainkan membuka forum bersama yang melibatkan semua pihak. IMPIB ini milik seluruh mahasiswa Bombana, bukan alat ego segelintir orang.”

Ia menegaskan, hanya dengan menjaga persatuan IMPIB bisa tetap relevan sebagai rumah intelektual, ruang solidaritas, dan wadah pengabdian mahasiswa Bombana.**

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *