Kendari – Mahasiswa KKN reguler Universitas Islam Negeri ( UIN ) Kendari angkatan XXII mengajak masyarakat Sultra mengunjungi kawasan wisata hutan pinus Baini, di Desa Baini, Kecamatan Sampara.
Salah satu upaya mengembangkan kawasan wisata hutan pinus Baini di Desa Baini, Kecamatan Sampara, Kabupaten Konawe adalah melalui kolaborasi mahasiswa KKN), Pemerintah Kecamatan Sampara dan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis).
Kolaborasi tersebut diwujudkan melalui kegiatan Sampara Sehat yang dirangkaikan dengan senam bersama dan bakti sosial sebagai upaya memperkenalkan potensi wisata alam kepada masyarakat.
Camat Sampara, Muhsin, mengatakan pengembangan Hutan Pinus Baini berawal dari inisiatif pemuda Desa Baini yang tergabung dalam Karang Taruna. Seiring berjalannya waktu, kawasan tersebut mulai dikenal dan dikunjungi masyarakat, tidak hanya dari Desa Baini tetapi juga dari desa tetangga hingga kecamatan lain di Kabupaten Konawe.
“Kelompok-kelompok pemuda di sini yaitu Karang Taruna, menggagas wisata ini. Alhamdulillah berjalan seiring waktu dan sekarang mulai dinikmati masyarakat, bahkan pengunjung dari luar desa dan antar-kecamatan sudah datang ke sini,”
Muhsin, Hutan Pinus Baini menawarkan pengalaman wisata yang berbeda dibandingkan destinasi lain di Konawe. Hamparan pohon pinus di kawasan perbukitan menghadirkan panorama alam yang asri dan udara yang sejuk sehingga berpotensi menjadi salah satu ikon wisata daerah.
“Hutan Pinus Baini ini lain daripada destinasi wisata yang ada di daerah pantai. Di sini kita menikmati panorama alam dan kesejukan yang luar biasa,” katanya.
Muhsin mengapresiasi keterlibatan mahasiswa KKN UIN Kendari yang menjadikan kawasan Hutan Pinus Baini sebagai lokasi pelaksanaan program kerja tingkat kecamatan.
Menurutnya, kehadiran mahasiswa menjadi bagian dari upaya memperkenalkan destinasi wisata tersebut kepada masyarakat yang lebih luas.
Wakil Ketua Pokdarwis Hutan Pinus Baini, Ardhan Saputra menjelaskan, kawasan wisata tersebut berawal dari hasil riset Ruruhi Project yang kemudian mendorong pembentukan Kelompok Sadar Wisata sebagai pengelola destinasi.
“Kami ada karena salah satu gagasan teman-teman Ruruhi Project. Mereka datang melakukan riset, kemudian dari hasil riset itu terbentuk beberapa spot area wisata,” jelasnya.
Ardhan mengatakan, Pokdarwis mulai aktif mengembangkan kawasan sejak Juni 2025 dan kini beranggotakan sekitar 68 orang.
Meski telah dibuka untuk umum sejak Desember 2025, pengembangan kawasan masih dilakukan secara bertahap dengan mengandalkan swadaya
Ardhan juga menyebut, Hutan Pinus Baini memiliki bentang alam yang menjadi daya tarik tersendiri. Selain perbukitan yang dipenuhi pohon pinus, terdapat area dengan kontur menyerupai tribun stadion yang mengelilingi lapangan terbuka di bagian tengah.
“Kita punya hutan pinus yang berbukit-bukit. Bahkan ada area yang bentuknya seperti stadion, bagian tengahnya datar dan dikelilingi pohon pinus,” ujarnya.
Menurut Ardiansyah, pembangunan kawasan hingga kini dilakukan secara gotong royong oleh anggota Pokdarwis dengan dukungan masyarakat.
“Kalau fasilitas umum sebenarnya masih belum ada. Kami membangun dengan kemampuan yang kami miliki dan dibantu sumbangan masyarakat,” ungkapnya.
Melalui kolaborasi bersama mahasiswa KKN UIN Kendari, Pemerintah Kecamatan Sampara, dan Pokdarwis berharap Hutan Pinus Baini semakin dikenal sebagai destinasi wisata alam baru di Kabupaten Konawe. Pengembangan kawasan ini juga diharapkan mampu mendorong pertumbuhan UMKM dan meningkatkan perekonomian masyarakat (redaksi)
