KENDARI, KABENGGA.ID. (22 Mei 2026) — Polemik politik yang menyeret internal Partai NasDem Sulawesi Tenggara terus memanas dan menjadi sorotan publik. Situasi tersebut mencuat usai pelaksanaan Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) Partai NasDem Sultra, ketika Ketua DPRD Sultra, La Ode Tariala, yang juga merupakan kader NasDem, terlihat duduk di barisan belakang dalam agenda nasional tersebut.

Peristiwa itu memantik berbagai pertanyaan publik, terlebih posisi La Ode Tariala sebagai Ketua DPRD Sultra selama ini dinilai memiliki peran strategis dalam struktur politik daerah maupun partai.

Polemik semakin berkembang setelah Ketua DPW Partai NasDem Sultra, Ali Mazi, menyampaikan pernyataan bahwa La Ode Tariala ditempatkan di belakang karena dinilai tidak memberikan kontribusi pada kegiatan Rakerwil Nasional Partai NasDem.

Tak hanya itu, sebelumnya juga telah beredar rekomendasi internal partai terkait pergantian La Ode Tariala dari jabatan Ketua DPRD Sultra. Padahal, hingga saat ini belum ada informasi mengenai pelanggaran etik maupun persoalan hukum yang menjerat dirinya.

Ketua ARPEKA Sultra, Zaldin, menilai situasi tersebut sebagai peristiwa yang mencederai semangat kaderisasi politik di tubuh partai.

“Peristiwa ini sangat memilukan bagi kader partai yang telah berprestasi dan mengharumkan nama Partai NasDem dengan menjadi Ketua DPRD Sultra. Sebagai kaum muda, kita tentu harus berpikir berkali-kali untuk terjun ke dunia politik. Loyalitas dan prestasi ternyata belum tentu cukup untuk dianggap memiliki tempat di partai politik,” ujar Zaldin.

Menurutnya, polemik tersebut bukan hanya menjadi urusan internal partai, tetapi juga ikut mencoreng wajah pemerintahan di Sulawesi Tenggara. Ia menilai, seorang pimpinan lembaga legislatif daerah semestinya tetap mendapatkan penghormatan dalam forum resmi, terlebih kegiatan tersebut berlangsung di hadapan banyak peserta dan menjadi konsumsi publik melalui pemberitaan media.

“Seorang Ketua DPRD Sultra dipermalukan di depan khalayak umum dalam kegiatan nasional di Aula Hotel Claro. Ini bukan hanya disaksikan peserta yang hadir, tetapi juga tersebar luas melalui media. Ini menjadi lelucon politik yang sangat mengerikan di lingkaran partai politik dan pemerintahan Sulawesi Tenggara,” tegasnya.

Pernyataan tersebut kini memicu beragam respons di tengah masyarakat. Banyak pihak menilai dinamika internal partai seharusnya tidak dipertontonkan secara terbuka hingga menimbulkan kesan adanya konflik politik yang berujung pada degradasi marwah lembaga legislatif daerah.

Hingga kini, polemik terkait posisi La Ode Tariala di internal Partai NasDem Sultra masih menjadi perhatian publik dan terus memunculkan spekulasi politik di Bumi Anoa.(redaksi).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *