KENDARI — Gubernur Sulawesi Tenggara (Sultra), Mayjen TNI (Purn) Andi Sumangerukka, menegaskan komitmen kepemimpinannya untuk mengabdi dan membangun Bumi Anoa tidak hanya melalui kebijakan struktural, tetapi juga melalui aksi-aksi nyata yang menyentuh langsung masyarakat kecil — terutama di sektor pendidikan.

Dalam berbagai kesempatan, Andi Sumangerukka menekankan bahwa orientasi pemerintahannya tidak semata-mata bertumpu pada pembangunan fisik dan infrastruktur, melainkan juga pada pembangunan manusia dan pemerataan kesejahteraan. Menurutnya, masa depan Sulawesi Tenggara sangat ditentukan oleh kualitas generasi mudanya.

Salah satu tekad pribadi yang ia bawa sejak awal menjabat Gubernur adalah membantu anak-anak dari keluarga kurang mampu agar tidak putus sekolah. Bentuk komitmen itu ia wujudkan melalui langkah tidak biasa bagi seorang kepala daerah: menghibahkan gajinya untuk program beasiswa pendidikan bagi pelajar yang membutuhkan.

“Pendidikan adalah jalan keluar dari kemiskinan. Jika ada anak yang ingin sekolah tetapi terhalang biaya, maka negara — dalam hal ini pemerintah — tidak boleh tinggal diam,” tegas Andi Sumangerukka.

Program hibah gaji tersebut diarahkan untuk membantu siswa dari wilayah pelosok, anak buruh, nelayan, tenaga informal, hingga anak yatim yang selama ini menghadapi kesulitan akses pendidikan. Inisiatif ini juga diproyeksikan menjadi gerakan sosial kolaboratif, mendorong pihak swasta, dermawan lokal, dan komunitas masyarakat untuk ikut terlibat.

Di tengah berbagai tantangan ekonomi daerah, kebijakan berbasis empati itu menghadirkan pesan kuat: pembangunan tidak hanya diukur dari angka pertumbuhan, tetapi dari seberapa jauh pemerintah mampu hadir untuk rakyat kecil.

Langkah ini sekaligus mempertegas gaya kepemimpinan Andi Sumangerukka yang dikenal humanis, responsif, dan berorientasi pada pelayanan publik. Komitmen tersebut diharapkan memberi dampak jangka panjang terhadap pengurangan angka putus sekolah serta peningkatan kualitas sumber daya manusia Sulawesi Tenggara.

Bagi Andi Sumangerukka, mengabdi bukan sekadar memenuhi target birokrasi. Ia menempatkan kepemimpinan sebagai tanggung jawab moral untuk memastikan bahwa setiap anak di Bumi Anoa memiliki hak yang sama untuk bermimpi, belajar, dan menatap masa depan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *