Ucapan aparat tuai kecaman, pendekatan dinilai tak menyentuh akar masalah—publik pertanyakan empati dan peran Dinas Sosial
KENDARI, KABENGGA.ID. – Sebuah video yang beredar luas di media sosial memicu gelombang kritik publik. Dalam rekaman tersebut, gabungan aparat Satpol PP di Kendari, Sulawesi Tenggara, terlihat menarik paksa sejumlah “manusia silver” dari jalanan. Bukan hanya tindakan fisik yang disorot, tetapi juga ucapan-ucapan yang dinilai merendahkan dan melukai rasa kemanusiaan.
Raja Saputra Pratama, mahasiswa Ilmu Politik, menilai sikap aparat dalam video tersebut mencerminkan krisis empati terhadap kelompok rentan. “Ucapan-ucapan itu bukan hanya tidak pantas, tapi menunjukkan minimnya kepedulian terhadap mereka yang berada di posisi paling lemah,” ujarnya. Ia menegaskan, peristiwa ini bukan sekadar persoalan di lapangan, melainkan tamparan bagi sistem penanganan sosial secara keseluruhan.
Sorotan tajam juga mengarah ke Dinas Sosial. Lembaga yang semestinya hadir dengan solusi justru dinilai absen dalam memberikan pendekatan yang manusiawi dan berkelanjutan. Penanganan yang dilakukan terkesan setengah hati sekadar “merapikan” wajah kota tanpa menyentuh akar persoalan kemiskinan dan keterbatasan akses hidup.
Praktik memberikan uang lalu memulangkan para pekerja jalanan ke daerah asal dinilai bukan solusi, melainkan bentuk pengalihan tanggung jawab. Tanpa jaminan kehidupan yang lebih layak, mereka berpotensi kembali ke jalan, mengulang siklus yang sama. Penertiban pun berubah menjadi rutinitas tanpa hasil nyata.
Publik memahami pentingnya ketertiban kota. Namun, ketertiban yang dibangun tanpa menjunjung nilai kemanusiaan justru menciptakan persoalan baru. Anak-anak jalanan dan manusia silver adalah individu dengan martabat, bukan objek penertiban. Pendekatan represif dan bahasa yang merendahkan hanya memperdalam luka sosial.
Raja, yang juga Ketua LMND FISIP UHO, melontarkan kritik keras: “Hati kalian telah mati.” Pernyataan ini mencerminkan kegelisahan publik yang melihat penanganan dilakukan tanpa arah dan tanpa empati.
Sejumlah kalangan mendesak evaluasi menyeluruh terhadap pola penanganan anak jalanan dan manusia silver di Kendari. Pendekatan yang dibutuhkan bukan sekadar penertiban sesaat, melainkan strategi kolaboratif yang melibatkan pemerintah, komunitas, dan masyarakat. Program pembinaan, akses pendidikan, pelatihan kerja, hingga pemberdayaan ekonomi dinilai harus menjadi prioritas utama.
Kasus ini menjadi pengingat bahwa kebijakan sosial tak cukup hanya menargetkan ketertiban visual kota. Ukuran keberhasilan sejatinya terletak pada kemampuan negara menghadirkan perubahan nyata bagi kehidupan kelompok paling rentan bukan sekadar menyingkirkan mereka dari pandangan./(redaksi).
