Oleh: Prof. Ali Mochtar Ngabalin, M. Si

Ketua DPP Partai Golkar Bidang Kebijakan Politik Luar Negeri dan Hubungan Internasional

Ucapan yang keluar dari seseorang, terlepas dari gelar akademik dan posisi yang disandang, selalu menjadi cerminan siapa yang sedang memegang kendali di dalam dirinya. Ada yang berbicara dengan kejernihan akal, ada yang terpancing emosi dan kehilangan arah. Dalam konteks ini, manusia selalu berada dalam ujian yang sama: apakah ia berdiri sebagai makhluk berakal, atau jatuh pada dorongan yang lebih rendah.

Dalam pemahaman klasik, ada dua makhluk yang kerap dijadikan cermin. Malaikat, yang seluruh keberadaannya tunduk pada akal dan ketaatan. Di sisi lain, binatang yang sepenuhnya digerakkan oleh nafsu. Manusia berdiri di tengah, membawa dua potensi itu sekaligus: akal dan nafsu.

Manusia memiliki tubuh dengan kebutuhan biologis, insting, dan dorongan dasar. Namun pada saat yang sama, manusia juga memiliki akal yang mampu menimbang, mengendalikan, bahkan melampaui keterbatasan fisiknya. Di titik inilah kualitas manusia ditentukan.

Ketika akal mengambil alih, manusia naik derajatnya. Cara berpikir menjadi jernih, keputusan menjadi terukur, dan sikap mencerminkan kedewasaan. Dalam kondisi ini, manusia mendekati karakter malaikat: tenang, rasional, dan berpijak pada kepentingan yang lebih luas.

Namun saat nafsu menguasai, arah berubah drastis. Emosi meledak tanpa kendali, kata-kata keluar tanpa pertimbangan, dan kebencian menjadi bahan bakar utama. Dalam fase ini, manusia kehilangan pijakan akalnya.

Di titik inilah, publik berhak membaca dan menilai pernyataan Prof. Saiful Mujani yang menyerukan penurunan terhadap presiden yang sah dan terpilih secara konstitusional. Pernyataan seperti ini tidak sekadar kritik, tetapi telah bergeser menjadi provokasi yang berbahaya dalam kehidupan demokrasi.

Demokrasi tidak dibangun dari teriakan emosional, melainkan dari mekanisme yang sah, dari proses yang diatur, dan dari penghormatan terhadap hasil pilihan rakyat. Ketika ada seruan yang keluar di luar koridor itu, maka yang sedang dipertontonkan bukan kedewasaan berpikir, melainkan dominasi emosi yang kehilangan arah.

Fenomena ini tidak berdiri sendiri. Dalam dinamika sosial dan politik hari ini, banyak pernyataan lahir dari kemarahan, prasangka, dan dorongan untuk memecah. Ini berbahaya. Ketika ruang publik diisi oleh emosi yang liar, yang muncul adalah kebisingan, bukan solusi.

Lebih jauh, pernyataan seperti ini berpotensi merusak kepercayaan publik terhadap sistem yang telah dibangun dengan susah payah. Narasi yang mendorong delegitimasi kepemimpinan hanya akan menciptakan instabilitas, dan instabilitas adalah pintu masuk bagi kekacauan yang lebih luas.

Penting untuk dipahami, manusia tidak pernah kosong. Selalu ada yang memimpin di dalam dirinya. Entah akal, atau nafsu. Setiap kata yang diucapkan adalah bukti siapa yang sedang berkuasa.

Maka ukuran kualitas seseorang menjadi sederhana. Lihat bagaimana ia berbicara saat berbeda pendapat. Lihat bagaimana ia merespons tekanan. Dari situ terlihat apakah ia menjaga akalnya tetap di depan, atau membiarkan dirinya jatuh pada dorongan yang lebih rendah.

Dalam konteks kepemimpinan opini publik, tanggung jawab moral menjadi jauh lebih besar. Gelar akademik seharusnya melahirkan keteduhan berpikir, bukan justru memperkeras nada provokasi. Intelektualitas seharusnya memperkuat stabilitas, bukan mengganggu fondasi yang sudah ada.

Dalam dunia yang penuh kebisingan, kemampuan untuk tetap rasional adalah nilai yang semakin langka. Tidak semua orang mampu menjaga itu.

Dan pada akhirnya, publik tidak membutuhkan suara yang paling keras. Publik membutuhkan suara yang paling jernih. Karena arah bangsa tidak ditentukan oleh emosi sesaat, tetapi oleh akal sehat yang konsisten.

Karena menjadi manusia pada akhirnya adalah pilihan. Mau naik mendekati akal yang jernih, atau jatuh mengikuti dorongan yang tidak terkendali. Dan arah itu, selalu ditentukan dari dalam.(redaksi).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *