Kendari – 21 November 2025.
Forum Pemuda Pemudi Bombana (FPPB) Sulawesi Tenggara menggelar aksi demonstrasi di depan Markas Kepolisian Daerah (Polda) Sulawesi Tenggara. Massa aksi tiba dengan kendaraan komando serta perangkat pengeras suara, menyuarakan sejumlah tuntutan terkait dugaan aktivitas pertambangan ilegal di Desa Rau, Kabupaten Bombana.
Dalam aksi tersebut, Jenderal Lapangan (Jendlap) Rahmat bersama para korlap, Bung Faris dan Bung Falsafah, memimpin jalannya demonstrasi. Aksi diikuti puluhan peserta yang menuntut pihak kepolisian bertindak tegas terhadap indikasi aktivitas penggalian material yang diduga dilakukan tanpa izin resmi.
Dalam seruan aksinya, FPPB menekankan beberapa poin tuntutan, di antaranya:
Mendesak Polda Sultra segera membentuk Tim Investigasi Khusus untuk mengungkap legalitas, dampak lingkungan, dan alur distribusi material hasil penggalian di Desa Rau.
Meminta verifikasi lapangan segera serta penghentian sementara aktivitas pertambangan apabila ditemukan operasi tanpa IUP, izin lingkungan, atau izin stone crusher.
Menuntut penindakan tegas tanpa kompromi terhadap pertambangan ilegal: mulai dari penghentian total, penyitaan alat, hingga proses pidana bagi pelaku.
Menyoroti potensi kerusakan ekologis, ketidakadilan usaha, serta melemahnya pengawasan daerah—disampaikan langsung oleh Aril Syahrir selaku perwakilan pemuda Bombana yang aktif mengawal isu lingkungan dan sumber daya alam.
Mendesak investigasi menyeluruh terhadap dugaan kerugian negara berupa kehilangan volume material, nilai ekonomi, dan potensi PNBP.
Menuntut penindakan terhadap seluruh rantai keterlibatan: pengelola, pemodal, pembeli, hingga pihak yang memfasilitasi jalur distribusi.
Menekan aparat agar melakukan tindakan hukum terukur seperti stop order, penyitaan, pemeriksaan, dan penangkapan apabila bukti telah mencukupi.
Meminta Pemkab Bombana memperketat pengawasan distribusi material untuk mencegah aktivitas ilegal kembali terulang.
Aril Syahrir dalam orasinya menegaskan bahwa dugaan aktivitas ilegal tersebut bukan hanya menguras sumber daya alam Bombana, tetapi juga mengancam lingkungan hidup dan masa depan masyarakat setempat.
“Kami datang hari ini karena kerusakan yang terjadi tidak boleh dibiarkan. Jika aktivitas itu ilegal, hentikan total. Jangan ada lagi permainan yang merugikan daerah,” ujar Aril dari atas mobil komando.
Aksi yang dimulai pukul 09.00 WITA ini berlangsung tertib hingga selesai. Massa berharap Polda Sultra segera merespons tuntutan tersebut dan mengambil langkah investigasi konkret demi penegakan hukum yang transparan dan akuntabel.
