BOMBANA, KABENGGA.ID. – Ratusan petani di Kecamatan Lantari Jaya, Kabupaten Bombana, Sulawesi Tenggara, mendesak pemerintah segera melakukan normalisasi Bendung Langkowala yang selama ini menjadi sumber utama irigasi pertanian. Kondisi bendungan yang mengalami pendangkalan akibat timbunan lumpur dinilai telah mengancam produktivitas pertanian dan berpotensi menyebabkan gagal panen di sejumlah desa.

Keluhan tersebut disampaikan Ketua Kelompok Tani Sinar Harapan Desa Lombakasi, Ikep, yang mewakili aspirasi petani dari Desa Lombakasi, Kalaero, Langkuala, hingga Watu-Watu. Menurutnya, kondisi Bendung Langkowala semakin memprihatinkan karena kapasitas tampung air terus berkurang akibat sedimentasi yang telah berlangsung selama bertahun-tahun.

Ikep menjelaskan, areal persawahan di Desa Lombakasi saja mencapai hampir 500 hektare. Saat ini sebagian besar petani telah menanam padi, sementara sebagian lainnya masih dalam tahap pengolahan lahan. Namun, keterbatasan pasokan air membuat para petani khawatir tanaman mereka tidak dapat tumbuh optimal.

Menurutnya, Bendung Langkowala sebenarnya masih dapat mengalirkan air ketika musim hujan berlangsung. Namun saat curah hujan menurun, bendungan tidak lagi mampu menyimpan cadangan air dalam jumlah cukup karena dasar bendungan telah dipenuhi endapan lumpur.

“Begitu hujan berhenti, air cepat habis karena bendungan sudah dangkal. Tidak ada lagi ruang yang cukup untuk menampung air seperti dulu,” ujar Ikep,Kepada media ini.jumat (5/6/26).

Ia menuturkan bahwa persoalan tersebut telah berulang kali disampaikan kepada berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah dan sejumlah wakil rakyat. Namun hingga kini belum ada langkah konkret untuk melakukan pengerukan maupun normalisasi Bendung Langkowala.

Selain kurangnya pemeliharaan, para petani juga menyoroti maraknya aktivitas Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI) di wilayah sekitar yang diduga menjadi salah satu penyebab meningkatnya sedimentasi di bendungan. Material lumpur yang terbawa aliran sungai disebut terus mengendap dan mempercepat proses pendangkalan.

Akibat kondisi tersebut, petani di wilayah Lantari Jaya kini hanya mengandalkan air hujan sebagai sumber tambahan untuk mengairi sawah mereka. Jika hujan tidak turun dalam waktu lama, tanaman padi berisiko mengalami kekeringan hingga gagal panen.

Di tempat terpisah, Kepala Desa Watu-Watu, Nasrin, mengakui bahwa kondisi Bendung Langkowala saat ini sangat memprihatinkan. Ia mengatakan endapan lumpur bahkan telah mencapai bagian atas mercu bendungan sehingga aliran air saat banjir tidak lagi masuk ke area tampungan, melainkan langsung mengalir ke sungai.

Menurut Nasrin, ratusan hektare sawah di Desa Watu-Watu, Langkowala, Lombakasi, dan desa-desa sekitarnya sangat bergantung pada keberadaan Bendung Langkowala. Namun karena saluran dan tampungan air tertutup lumpur, petani kesulitan mendapatkan pasokan air yang memadai.

Ia juga mengingatkan bahwa ancaman gagal panen tahun ini sangat nyata. Apalagi sebagian petani masih menanggung kerugian akibat musim tanam sebelumnya yang juga tidak berjalan maksimal karena keterbatasan air irigasi.

Karena itu, petani bersama pemerintah desa mendesak Pemerintah Kabupaten Bombana, Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara, hingga pemerintah pusat untuk segera melakukan normalisasi Bendung Langkowala, pengerukan sedimentasi, dan perbaikan saluran-saluran irigasi. Mereka berharap langkah cepat dapat dilakukan demi menyelamatkan ratusan hektare lahan pertanian dan menjaga ketahanan pangan masyarakat Lantari Jaya./DR.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *