BOMBANA,KABENGGA.ID. — Keterbatasan anggaran Dana Desa pada 2026 tidak membuat Pemerintah Desa Lombakasih, Kabupaten Bombana, Sulawesi Tenggara, berhenti mencari jalan keluar untuk memenuhi kebutuhan pembangunan masyarakat.
Kepala Desa Lombakasih, Musaham, mengatakan pemerintah desa memilih membuka jalur komunikasi dan mengajukan sejumlah proposal ke Balai Wilayah Sungai (BWS) sebagai salah satu upaya mencari dukungan pembangunan di luar skema Dana Desa.
“Anggaran Dana Desa tahun ini memang jauh berkurang. Karena itu kami mencari terobosan lain supaya bagaimana desa kita tetap bisa terbangun,” kata Musaham kepada media ini, Selasa (8/9/2026).
Menurut dia, pada awal 2026 Pemerintah Desa Lombakasih mengajukan 10 proposal bantuan melalui BWS untuk 10 kelompok tani. Dari seluruh proposal tersebut, baru lima proposal yang direalisasikan.
Lima bantuan itu berupa pembangunan saluran tarsier yang berfungsi mengalirkan air dari saluran utama menuju lahan persawahan masyarakat. Masing-masing bantuan dialokasikan sekitar Rp195 juta dengan panjang saluran sekitar 250 meter per titik.
Dengan demikian, total nilai bantuan untuk lima kelompok mencapai sekitar Rp975 juta.
Musaham menjelaskan, pelaksanaan pembangunan dilakukan secara swakelola oleh masing-masing kelompok penerima bantuan. Model tersebut membuat kelompok tani terlibat langsung dalam pengelolaan pekerjaan pembangunan saluran irigasi.
Lima kelompok tani yang telah menerima bantuan tersebut yakni Kelompok Sinar Harapan, Mekar Sari, Tunas Muda, Teluk Bayur, dan Tunas Maju.
Bagi pemerintah desa, pembangunan saluran tarsier tersebut bukan sekadar proyek infrastruktur. Irigasi menjadi kebutuhan mendesak karena sektor pertanian Lombakasih menghadapi tekanan serius akibat kekeringan.
“Kelompok sangat senang karena memang bantuan ini sangat dibutuhkan. Dengan adanya saluran ini, masyarakat, khususnya kelompok pertanian, merasa terbantu,” ujar Musaham.
Namun, lima titik pembangunan itu belum menyelesaikan seluruh persoalan. Dari 10 proposal yang diajukan, masih terdapat lima proposal yang belum direalisasikan.
Musaham berharap pemerintah melalui BWS dapat kembali merealisasikan lima proposal tersebut. Menurut dia, kebutuhan jaringan irigasi di wilayah pertanian Lombakasih masih jauh lebih besar dibandingkan saluran yang telah dibangun.
Dua Kali Gagal Panen
Persoalan semakin berat karena kekeringan telah berdampak langsung terhadap produksi pertanian masyarakat Lombakasih sepanjang 2026.
Musaham menyebut petani mengalami dua kali gagal panen. Pada musim pertama, hanya sekitar 10 persen petani yang masih dapat memanen hasil sawahnya. Sementara pada musim kedua, persentase petani yang berhasil panen disebut turun menjadi sekitar 5 persen.
Dari total sekitar 280 hektare lahan persawahan, sekitar 230 hektare disebut mengalami gagal panen total akibat kekeringan.
Artinya, sekitar 82 persen lahan persawahan terdampak gagal panen total, meski sebagian lahan lainnya masih menghasilkan panen namun tidak maksimal.
Kondisi tersebut membuat beban ekonomi petani semakin berat. Biaya produksi bahkan disebut meningkat hingga dua kali lipat.
“Kalau sebelumnya biaya satu hektare sekitar Rp7,5 juta, sekarang bisa mencapai Rp15 juta. Itu pun akhirnya gagal panen,” kata Musaham.
Menurut dia, persoalan paling krusial terjadi ketika tanaman padi memasuki fase menjelang keluar bulir. Pada saat itu, ketersediaan air justru menurun sehingga tanaman tidak dapat berkembang secara optimal.
Desa Minta Pemerintah Siapkan Bantuan Bibit
Menghadapi kondisi tersebut, Pemerintah Desa Lombakasih berharap pemerintah daerah memberikan perhatian lebih serius terhadap kebutuhan petani, termasuk dukungan bibit untuk musim tanam berikutnya.
Musaham mengatakan persiapan menghadapi musim tanam 2027 menjadi kekhawatiran tersendiri karena masyarakat belum memiliki persediaan bibit yang memadai.
“Untuk 2027 ini belum ada persiapan bibit untuk masyarakat kami. Itu sangat-sangat dibutuhkan,” ujarnya.
Selain pembangunan jaringan irigasi, pemerintah desa juga berharap terdapat bantuan yang dapat meringankan kerugian petani akibat gagal panen, termasuk dukungan untuk pembelian bibit dan biaya pengolahan lahan.
Namun, Musaham mengingatkan pembangunan saluran irigasi tidak akan otomatis menyelesaikan persoalan jika sumber air utama tetap tidak tersedia.
“Kalau pekerjaan itu selesai, tetapi hujan tidak ada, bagaimana fungsinya? Tidak berfungsi kalau tidak ada air,” katanya.
Karena itu, persoalan pertanian di Lombakasih dinilai membutuhkan penanganan yang lebih menyeluruh—bukan hanya membangun saluran, tetapi juga memastikan ketersediaan sumber air, membantu petani memulihkan produksi, serta menyiapkan kebutuhan musim tanam berikutnya.
Pemerintah Desa Lombakasih kini masih berharap lima proposal yang belum terealisasi dapat memperoleh perhatian BWS. Bagi masyarakat petani, tambahan jaringan irigasi menjadi salah satu harapan untuk mengurangi ketergantungan terhadap curah hujan dan mencegah kembali terulangnya gagal panen./DR.
