KENDARI,KABENGGA.ID. – Sebanyak 206 siswa Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 2 Kota Kendari, Sulawesi Tenggara, resmi memulai rangkaian Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) sekaligus pendidikan karakter berbasis asrama sejak 31 Juli 2026. Program ini menjadi langkah awal dalam membangun disiplin, kemandirian, serta karakter peserta didik sejak hari pertama mereka memasuki lingkungan sekolah.
Kepala SRT 2 Kota Kendari, Ferdinand Nicholas Boonde, mengatakan sebanyak 26 siswa jenjang SD, 90 siswa SMP, dan 90 siswa SMA telah mengikuti tahapan awal yang meliputi pemeriksaan kesehatan, registrasi ulang, hingga penempatan di asrama.
“Seluruh siswa telah tiba sejak 31 Juli dan mengikuti serangkaian proses awal sebagai bagian dari persiapan sebelum pembukaan resmi MPLS,” ujar Ferdinand di Kendari, Minggu.
Menjelang pembukaan MPLS yang dijadwalkan dibuka langsung oleh Wali Kota Kendari, Siska Karina Imran, pada Senin (4/8), pihak sekolah terus mematangkan berbagai persiapan. Mulai dari penataan penampilan siswa hingga pemeriksaan kesehatan lanjutan di puskesmas bagi peserta didik yang membutuhkan penanganan khusus.
Ferdinand menjelaskan, Sekolah Rakyat Terintegrasi 2 Kendari memperoleh kuota penerimaan sebanyak 270 siswa pada tahun ajaran ini. Namun, proses penjangkauan masih terus dilakukan, khususnya untuk jenjang SD, agar kuota dapat terpenuhi secara optimal.
“Sebanyak 20 calon siswa SD tambahan sudah terkonfirmasi. Mereka akan ditetapkan melalui Surat Keputusan Wali Kota dan dijadwalkan bergabung setelah rangkaian MPLS selesai,” jelasnya.
Seluruh siswa yang telah diterima kini menempati asrama dengan pemisahan antara putra dan putri. Setiap ruang asrama berbentuk hall dihuni sekitar 16 hingga 20 siswa, dilengkapi ranjang tingkat serta berbagai kebutuhan pribadi yang disediakan secara gratis, mulai dari seragam, perlengkapan mandi, hingga perlengkapan tidur.
Menurut Ferdinand, tantangan terbesar pada fase awal pendidikan berasrama adalah proses adaptasi, terutama bagi siswa sekolah dasar berusia 7 hingga 9 tahun yang baru pertama kali berpisah dari orang tua.
Karena itu, pihak sekolah memberikan ruang bagi orang tua untuk mengunjungi anak-anak mereka setiap sore. Kebijakan tersebut diterapkan sebagai bentuk dukungan psikologis tanpa mengganggu jadwal pembelajaran maupun pembinaan karakter yang telah disusun.
Rangkaian MPLS dijadwalkan berlangsung hingga 13 Agustus 2026. Selama pelaksanaannya, Kementerian Sosial bekerja sama dengan TNI menghadirkan program Taruna Bakti/Taruna Nusantara sebagai bagian dari penguatan pendidikan karakter.
“Pada 4–7 Agustus, lima taruna akan mendampingi siswa dalam pembentukan karakter, penanaman disiplin, wawasan kebangsaan, serta kegiatan kepramukaan. Setelah itu, MPLS dilanjutkan dengan materi kesehatan, penguatan literasi dan numerasi, hingga pemetaan potensi setiap siswa,” tutup Ferdinand.(redaksi).
