Kendari – Pemilik toko grosir dan enceran yang terletak di pasar panjang, tepatnya di bundaran ban terkesan tak memperdulikan karyawan menghina konsumen dengan kata – kata kasar.
Kronologis kejadian terjadi, Selasa Sore sekitar jam 5.40 wita bermula seorang ibu inisial MI singgah membeli keperluan rumah tangga di toko Cempaka.
Saat ibu masuk ke dalam toko, tiba – tiba salah seorang karyawan bernama Wahyu mengatakan dalam bahasa daerah “Awas kasih lewat ekskavator mau lewat”
Lalu ibu yang masuk tadi merasa terusik sembari memandang sekelilingnya kalau ada orang lain selain dirinya.
“Saya melihat tidak ada pembeli yang masuk selain saya, sehingga saya pastikan kata – kata ekskavator itu ditujukkan ke saya, lalu saya dekati pelaku dan menanyakan siapa yang kau bilangin ekskavator dan apa maksudnya” ungkapnya kepada Kabengga.id, Selasa (22/8).
Meski begitu dirinya tetap membeli rokok untuk suaminya yang menunggu di luar lalu keluar dengan wajah kesal.
Melihat istrinya kesal suaminya Yf kemudian bertanya ada apa, sang istri kemudian menceritakan penghinaan yang dialaminya.
Kemudian Yf masuk dan bertanya kepada Wahyu mengapa karyawan yang menghina istrinya.
Awalnya Wahyu tidak mengakui tapi setelah di desak terus menerus akhirnya dirinya mengakui perbuatanya.
“Saya akui saya salah sudah mengatakan istri bapak dengan kata ekskavator, Saya minta maaf pak,” kata Yf menirukan kalimat Wahyu.
Setelah permintaan maaf Yf kemudian menghubungi pemilik toko untuk menyampaikan kejadian tersebut.
Pemilik pun memberi tanggapan kalau dirinya siap ketemu Yf tapi sampai 20 menit berlalu sang pemilih toko tak datang.
Kemudian Yf dan istrinya meninggalkan toko Cempaka.
“Saya menilai pemilik toko menganggap sepele penghinaan karyawanya kepada konsumen, kalau yang bersangkutan sungguh – sungguh pasti segera ke tokonya karena ini menyangkut nama baik tokonya,” tandasnya.
Menurutnya kejadian yang menimpa istrinya kemungkinan sudah sering terjadi pada konsumen lain hanya saja tidak mencuat kepermukaan karena tidak dipahami karena mereka (karyawan – red) menggunakan bahasa daerah.
Tapi kali ini mereka tidak bisa mengelak karena istri saya mengerti bahasa daerah mereka.
“Saya mengharapkan pemilik toko agar membina mental karyawanya dalam melayani pembeli dengan santun.
“Bukankah pembeli itu adalah raja yang harus disambut dengan ramah dan senyum bukan sebaliknya menghina,” tegasnya. (redaksi)
