KENDARI,KABENGGA.ID. – Arus globalisasi dan penetrasi budaya asing melalui teknologi digital dinilai semakin menggerus identitas generasi muda. Di tengah derasnya pengaruh media sosial, internet, dan gawai, nilai-nilai budaya lokal perlahan mulai tersisih dari ruang kehidupan anak-anak dan remaja.

Pemuda Muna Barat, La Ode Muh. Didin Alkindi, mengingatkan bahwa karakter generasi muda saat ini tidak lagi hanya dibentuk oleh lingkungan keluarga dan masyarakat, tetapi juga oleh berbagai nilai yang datang dari luar melalui teknologi modern.

Menurutnya, derasnya arus informasi membuat budaya asing lebih mudah diterima generasi muda dibandingkan nilai-nilai luhur yang diwariskan leluhur.

“Anak-anak kita hari ini dibanjiri berbagai nilai dari luar. Jika tidak diimbangi dengan penguatan budaya lokal, maka mereka akan tumbuh tanpa mengenal akar identitasnya sendiri,” ujar Didin.

Ia menegaskan bahwa budaya asing yang memengaruhi anak muda sejatinya lahir dari kebudayaan bangsa lain yang terus dirawat dan diwariskan.

Karena itu, masyarakat Muna tidak boleh hanya menjadi konsumen budaya luar, melainkan harus mampu menggali, mengembangkan, dan mengaktualisasikan warisan budaya sendiri agar tetap relevan dengan perkembangan zaman.

Menurut Didin, pelestarian budaya tidak cukup hanya dengan mengenang sejarah, tetapi harus menghadirkan nilai-nilai leluhur dalam bentuk yang menarik dan mudah diterima generasi muda.

“Kita harus menggali nilai budaya yang baik, mengembangkannya, lalu menyajikannya dengan cara yang modern sehingga anak-anak muda tertarik untuk mengenal dan menjadikannya bagian dari kehidupan mereka,” katanya.

Ia menjelaskan bahwa sejarah dan kebudayaan memiliki hubungan yang tidak terpisahkan dalam dimensi waktu yang saling berkelanjutan.

Masa lalu menjadi fondasi pembentukan masyarakat, masa kini merupakan interpretasi dari warisan tersebut, sedangkan masa depan ditentukan oleh sejauh mana pelajaran dari masa lalu mampu dipertahankan dan dikembangkan.

Pandangan tersebut sejalan dengan pesan Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno, yang pernah mengingatkan pentingnya menjaga identitas bangsa di tengah keberagaman pengaruh budaya dunia.

“Kalau jadi Hindu jangan jadi orang India, kalau jadi orang Islam jangan jadi orang Arab, kalau jadi orang Kristen jangan jadi orang Yahudi. Tetaplah jadi orang Indonesia dengan adat budaya Nusantara yang kaya raya ini,” demikian pesan Bung Karno yang kembali relevan di tengah tantangan globalisasi saat ini.

Kekhawatiran terhadap memudarnya identitas budaya itulah yang mendorong Kerukunan Keluarga Masyarakat Muna (KKMM) Sulawesi Tenggara menggelar Festival Budaya Wuna pada 19 Juli 2026 di kawasan Eks MTQ dan Tugu Religi Kota Kendari.

Mengusung tema “Merajut Persaudaraan, Melestarikan Adat dalam Semangat Kawunaha yang Luhur Menuju Indonesia Emas 2045”, festival tersebut diproyeksikan menjadi salah satu perayaan budaya terbesar masyarakat Muna dengan target kehadiran sekitar 20 ribu peserta dari berbagai daerah di Sulawesi Tenggara.

Ketua KKMM Sultra, La Ode Darwin, menegaskan bahwa pelestarian budaya bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan investasi sosial untuk menjaga jati diri masyarakat di tengah perubahan zaman.

“Budaya adalah identitas. Jika budaya hilang, maka kita kehilangan akar yang menyatukan masyarakat. Karena itu, semangat Kawunaha harus terus diwariskan kepada generasi muda sebagai bekal menuju Indonesia Emas 2045,” tegasnya.

Salah satu agenda utama yang dipersiapkan panitia adalah penyajian 1.000 dulang yang ditargetkan masuk dalam catatan Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI). Tradisi tersebut menjadi simbol penghormatan, kebersamaan, dan semangat gotong royong yang selama ini melekat dalam kehidupan masyarakat Wuna.

Selain penyajian dulang, festival juga akan diramaikan dengan Kabasano Haroa atau doa keselamatan, atraksi Perkelahian Kuda, Modero, Tari Linda, Ewa Wuna, hingga hiburan rakyat yang diharapkan menjadi ruang edukasi budaya bagi generasi muda.

Di tengah derasnya arus budaya global, Festival Budaya Wuna bukan sekadar pesta adat. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi pengingat bahwa kemajuan tidak harus mengorbankan identitas. Sebab bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang mampu mengikuti perkembangan zaman, tetapi juga bangsa yang mampu menjaga akar budayanya tetap hidup.(redaksi).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *