Kendari, Kabengga.Id – Di ruang yang semestinya menjadi pusat produksi pengetahuan dan kesadaran kritis, kerusakan jalan di dalam Universitas Haluoleo justru menghadirkan paradoks yang mengguncang nalar. LD Asraf Al-Bani, mahasiswa Ilmu Politik, memaknai jalan berlubang itu bukan sekadar kerusakan fisik, melainkan simbol retaknya tanggung jawab institusi. Baginya, ini bukan hanya soal infrastruktur, tetapi juga tentang etika pengelolaan kekuasaan dalam ruang akademik yang seharusnya menjunjung rasionalitas dan keadilan.
Setiap lubang di jalan kampus merepresentasikan celah dalam akuntabilitas. Ketika mahasiswa harus mempertaruhkan keselamatan demi mencapai ruang kelas, kampus sejatinya gagal menjalankan fungsi dasarnya sebagai penyedia ruang belajar yang aman. Asraf menegaskan, kegagalan ini tidak bisa direduksi menjadi persoalan teknis semata. Di balik setiap pembiaran, selalu ada keputusan—dan setiap keputusan adalah tindakan politik yang sarat kepentingan.
Dalam perspektif ilmu politik, pembiaran terhadap kerusakan merupakan bentuk kekerasan struktural yang halus, namun nyata. Ia tidak hadir dalam represi fisik, melainkan melalui pengabaian sistematis terhadap hak-hak dasar mahasiswa. Kampus, dalam pandangan Asraf, tengah mempraktikkan ironi: mengajarkan teori tata kelola yang baik, namun gagal menerapkannya dalam keseharian. Pada titik ini, kampus tidak lagi sekadar lalai, tetapi mulai kehilangan legitimasi moral sebagai institusi pendidikan.
Lebih jauh, ia menyoroti ketertutupan informasi terkait anggaran yang memperdalam krisis kepercayaan. Transparansi bukan tuntutan berlebihan, melainkan prasyarat mutlak bagi setiap institusi publik, termasuk kampus. Ketika alokasi dana tidak disampaikan secara terbuka, kecurigaan menjadi konsekuensi logis. Asraf pun mempertanyakan: apakah terjadi distorsi prioritas, atau bahkan penyimpangan yang tersembunyi di balik birokrasi yang kaku?
Kondisi ini juga mengungkap persoalan yang lebih mendasar: normalisasi ketidaklayakan. Mahasiswa yang setiap hari melintasi jalan rusak tanpa protes perlahan digiring untuk menerima keadaan. Bagi Asraf, ini merupakan bentuk pembentukan kesadaran yang berbahaya. Kampus, secara tidak langsung, sedang mendidik mahasiswa untuk beradaptasi dengan ketidakadilan, alih-alih melawannya. Padahal, esensi mahasiswa adalah agen perubahan, bukan sekadar objek kebijakan.
Asraf turut mengkritik logika pembangunan kampus yang lebih menekankan aspek simbolik ketimbang kebutuhan mendasar. Gedung megah dan proyek besar kerap dijadikan indikator kemajuan, sementara perawatan fasilitas dasar terabaikan. Hal ini mencerminkan orientasi yang keliru—di mana citra diutamakan daripada substansi. Dalam jangka panjang, pola semacam ini tidak hanya merugikan mahasiswa, tetapi juga menggerus integritas institusi itu sendiri.
Lebih dari sekadar kritik, narasi Asraf adalah seruan perlawanan intelektual. Ia mengajak mahasiswa untuk merebut kembali ruang kritis yang mulai tergerus apatisme. Baginya, diam adalah bentuk persetujuan yang paling berbahaya. Jika mahasiswa tak lagi mampu mempertanyakan kondisi di kampusnya sendiri, bagaimana mungkin mereka dapat mengoreksi ketimpangan di tingkat yang lebih luas?
Pada akhirnya, jalan rusak di Universitas Haluoleo bukan sekadar persoalan infrastruktur. Ia adalah simbol krisis yang lebih besar—krisis tanggung jawab, transparansi, dan keberanian. Asraf menutup kritiknya dengan pernyataan tajam:
“Ketika kampus membiarkan jalannya hancur, sesungguhnya ia sedang menghancurkan jalan berpikir mahasiswanya. Dan ketika itu terjadi, yang runtuh bukan hanya aspal, tetapi juga masa depan nalar kritis itu sendiri.”/IR.
