Kendari, Kabengga.Id. – Julukan “Kampus Hijau” yang melekat pada Universitas Haluoleo (UHO) karena keindahan taman dan lanskapnya, kini menuai kritik pedas dari kalangan mahasiswa. Pasalnya, kemewahan visual tersebut dinilai tidak sebanding dengan kondisi fasilitas akademik yang memprihatinkan, khususnya sarana ruang perkuliahan.

Ferli Muhamad Nur, mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), menyoroti ketimpangan alokasi anggaran pembangunan. Menurutnya, universitas seolah lebih fokus pada estetika dengan menggelontorkan dana besar untuk penataan taman, namun mengabaikan pembenahan fasilitas yang sangat mendesak bagi mahasiswa.

“Kita terlihat indah di luar, namun di dalam porak-poranda. Sangat miris melihat fasilitas bangku perkuliahan yang masih sangat minim dan memprihatinkan,” ujar Ferli, Senin (21/04).

Kondisi ini dinilai bertolak belakang dengan visi besar universitas yang mengusung tagline “UHO Go Internasional”. Bagi Ferli, target tersebut terasa hanya sebagai wacana atau “omong kosong” jika fondasi fasilitas dasar bagi mahasiswa saja belum terpenuhi dengan layak.

Birokrasi Diduga Tutup Telinga dan Intervensi Kebebasan Berpendapat

Lebih jauh, mahasiswa juga menyoroti dinamika internal kampus yang dinilai kaku dan otoriter. Ferli menanyakan keseriusan pihak manajemen universitas dalam menyerap aspirasi. Ia mempertanyakan apakah pihak birokrasi kampus pernah benar-benar turun tangan untuk melakukan survei langsung mendengar keluhan mahasiswa.

“Kita selalu ditekan untuk menjaga nama baik kampus, tapi birokrasi kampus lupa mendengar segala teriakan mahasiswa. Pertanyaan saya, pernah tidak birokrasi turun langsung ke mahasiswa untuk mensurvey segala keluhan?” tanyanya.

Tidak hanya soal fasilitas, Ferli juga menyoroti kerasnya intervensi birokrasi yang membuat suasana di lingkungan kampus menjadi tidak kondusif bagi kebebasan berekspresi. Ia mengaku banyak mahasiswa yang merasa takut untuk menyuarakan ketidakpuasan secara terbuka.

“Kerasnya intervensi birokrasi membuat mahasiswa takut untuk mengeluarkan pendapat secara terbuka. Kita seakan dipaksa untuk tunduk dan patuh, walaupun kadang kebijakan yang dilakukan tidak masuk akal,” ungkapnya.

Menurutnya, mahasiswa hanya diharapkan menyuarakan hal-hal positif, sementara kritik atau keluhan terhadap kondisi yang buruk justru harus “dibungkam”. Hal ini dinilai sangat disayangkan mengingat seharusnya universitas menjadi ruang yang demokratis.

Harapan Perubahan Prioritas

Di akhir pernyataannya, Ferli berharap adanya evaluasi mendasar dari pihak rektorat dan jajaran birokrasi universitas. Ia berpesan agar pembangunan tidak lagi hanya berorientasi pada keindahan semata, melainkan beralih pada peningkatan kualitas fasilitas yang bersifat urgen dan mendukung proses belajar mengajar sehari-hari.

“Harusnya birokrasi lebih memprioritaskan bagaimana meningkatkan kualitas fasilitas ruang perkuliahan maupun fasilitas lain yang sifatnya urgensi untuk mahasiswa, bukan hanya pembangunan taman-taman,” pungkasnya./FI.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *