KENDARI – Kampus seharusnya menjadi ruang aman bagi mahasiswa baru untuk beradaptasi, belajar, dan berkembang. Namun, realitas yang terjadi belakangan ini di lingkungan Universitas Halu Oleo (UHO) Kendari justru menampakkan hal yang bertolak belakang.

Baru-baru ini, sebuah rekaman video berdurasi 19 detik beredar luas di berbagai media sosial. Dalam rekaman tersebut, terlihat adegan kekerasan yang dilakukan oleh sekelompok mahasiswa terhadap rekan mahasiswa lainnya. Kejadian itu berlangsung di pelataran Masjid La Ode Malim, di mana para mahasiswa baru yang sedang duduk berbaris secara bergantian ditampar oleh seseorang yang diduga merupakan mahasiswa senior.

Fenomena ini memicu sorotan tajam dari berbagai pihak, termasuk dari kalangan pengurus mahasiswa. La Ode Sardiman, Wakil Ketua 1 Majelis Permusyawaratan Mahasiswa (MPM) UHO terpilih, mengeluarkan pernyataan resmi yang menegaskan ketidaksetujuannya terhadap praktik tersebut.

Menurut La Ode Sardiman, tindakan kekerasan yang dibungkus dengan dalih “tradisi” atau “pembentukan karakter” tidak dapat dibenarkan sama sekali. “Kejadian seperti ini tidak bisa lagi dianggap sebagai tradisi atau bagian dari proses pembentukan karakter. Justru sebaliknya, perbuatan kekerasan di kampus menunjukkan kegagalan institusi dalam menciptakan budaya pendidikan yang humanis dan beradab,” ujarnya.

Ia juga menekankan dampak negatif yang ditimbulkan dari praktik kekerasan tersebut. Bagi korban, tindakan itu tidak hanya meninggalkan luka fisik, tetapi juga luka batin yang mendalam. “Tidak sedikit mahasiswa yang mengalami trauma, kehilangan rasa percaya diri, bahkan sampai tidak mau melanjutkan studinya dan lebih memilih untuk berhenti kuliah,” tambahnya.

Oleh karena itu, La Ode Sardiman mendesak pihak kampus untuk tidak hanya mengeluarkan himbauan normatif, tetapi juga mengambil langkah nyata dan konkret. Ia menyarankan agar pihak kampus menerapkan sistem pengawasan yang ketat, menyediakan mekanisme pelaporan yang aman bagi korban, serta menjatuhkan sanksi tegas bagi para pelaku tanpa pandang bulu.

“Jika kekerasan seperti ini terus dibiarkan, maka tidak menutup kemungkinan fakultas atau jurusan lain juga akan melakukan hal yang sama terhadap mahasiswa barunya. Akibatnya, kampus akan kehilangan jati dirinya sebagai tempat mencetak generasi intelektual yang berintegritas,” tegasnya.

Melalui pernyataan ini, La Ode Sardiman selaku Wakil Ketua 1 MPM UHO juga mengajak seluruh mahasiswa UHO untuk bersama-sama meninggalkan tradisi yang bersifat toksik, seperti praktik hazing atau perpeloncoan yang berkedok tradisi atau kebiasaan. “Kebiasaan belum tentu benar, tapi kebenaran harus dibiasakan,” tutupnya./FI.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *