Konawe, Kabengga.Id – Suasana tenang di Desa Wawonggole, Kecamatan Wonggeduku, Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara, mendadak berubah mencekam. Warga digegerkan oleh penemuan jasad seorang bocah laki-laki di pintu saluran air (got) kawasan perumahan BTN, Minggu (5/4/2026).
Penemuan ini bukan sekadar peristiwa tragis biasa. Sejumlah pertanyaan krusial langsung mencuat: siapa korban, bagaimana ia bisa berada di lokasi tersebut, dan apakah ada unsur kelalaian atau bahkan dugaan tindak pidana di balik kematian ini?
Berdasarkan rekaman video yang beredar dan diterima awak media, terlihat detik-detik dramatis saat warga berusaha mengevakuasi tubuh bocah tersebut dari dalam saluran air. Suasana penuh kepanikan dan duka menyelimuti lokasi.
“Ya ampun Tuhan, anaknya siapa ini,” terdengar suara seorang wanita dalam video, dengan nada histeris.
Tubuh korban tampak sudah dalam kondisi kaku, dengan bibir pucat—indikasi kuat bahwa nyawa bocah tersebut telah lama tak tertolong saat ditemukan.
“Tidak bisa mi, sudah pucat,” ujar warga lain, memastikan kondisi korban yang telah meninggal dunia.
Yang mengundang tanda tanya besar, hingga berita ini diturunkan, identitas korban masih belum diketahui. Lebih dari itu, penyebab pasti kematian juga masih gelap—meninggalkan ruang spekulasi di tengah masyarakat.
Ketiadaan keterangan resmi dari pihak berwenang semakin mempertebal misteri. Aparat keamanan setempat belum memberikan penjelasan terkait kronologi kejadian, apakah ini murni kecelakaan, kelalaian pengawasan lingkungan, atau ada dugaan lain yang lebih serius.
Peristiwa ini menyoroti pentingnya keamanan lingkungan, khususnya di kawasan permukiman yang memiliki infrastruktur saluran air terbuka. Jika tidak ditangani dengan baik, fasilitas tersebut bisa berubah menjadi “jebakan maut” yang mengancam keselamatan, terutama bagi anak-anak.
Kini, publik menunggu langkah cepat aparat kepolisian untuk mengungkap fakta sebenarnya. Tanpa transparansi dan penyelidikan menyeluruh, kematian tragis seorang bocah di sudut got ini berpotensi menjadi sekadar angka—tanpa keadilan dan tanpa jawaban.**
