Kendari – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) kembali menghidupkan skema penjurusan di jenjang pendidikan sekolah menengah atas (SMA) pada tahun ajaran 2027/2028. Jurusan yang kembali dihidupkan adalah IPA, IPS, dan bahasa, tetapi tidak menutup kemungkinan akan hadir penjurusan baru.
“Ini paling tidak ada jurusan yang sudah biasa dulu diselenggarakan: IPA, IPS, dan juga bahasa. Mungkin nanti ada modifikasi-modifikasi tertentu,” kata Mendikdasmen Abdul Mu’ti dalam acara Koordinasi dan Penandatangan Perjanjian Kerja Sama (PKS) Bantuan Pemerintah Pengembangan Kompetensi Guru Sekolah Dasar dalam Mengajar Bahasa Inggris (PKGSD MBI) di Hotel Merlynn Park Jakarta Pusat, Kamis (5/11)

Modifikasi penjurusan atau hadirnya penjurusan baru ini akan dirancang mengikuti dinamika keilmuan. Mu’ti menilai penjurusan pada SMA penting untuk persiapan murid masuk ke jenjang perguruan tinggi.

“Selama ini kami di perguruan tinggi (merasa) foundational knowledge bagi para mahasiswa baru itu memang rata-rata di bawah yang kita harapkan dan oleh karena itu, maka dengan dibukanya kembali jurusan, kami tentu saja berharap agar para murid, khususnya SLTA, memiliki basis knowledge yang lebih baik, sehingga ketika mereka masuk ke jenjang perguruan tinggi akan lebih siap lagi sesuai dengan bidang keilmuannya,” papar Mu’ti.

Pembukaan jurusan baru selain IPA, IPS, dan bahasa akan dilakukan secara bertahap. Kehadiran Tes Kemampuan Akademik (TKA) juga jadi upaya perlahan dalam mengarahkan murid untuk memilih jurusan.

“Karena tes TKA itu, Tes Kemampuan Akademik, selain ada mata pelajaran yang wajib, juga ada mata pelajaran pilihan yang oleh para murid menjadi pilihan untuk orientasi mereka melanjutkan studi ke jenjang perguruan tinggi,” jelas Mu’ti.

Mu’ti berharap hasil TKA juga bisa dimanfaatkan kampus negeri dan swasta di seleksi mahasiswa jalur lain.

“Tes Kemampuan Akademik oleh para rektor perguruan tinggi negeri, mudah-mudahan juga swasta termasuk di dalamnya, menjadi salah satu aspek dalam penerimaan mahasiswa baru jalur nontes. Selain itu. mereka yang tidak diterima lewat nontes juga bisa menjadi salah satu komponen dalam penerimaan mahasiswa di perguruan tinggi,” jelas Mu’ti. (redaksi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *