KENDARI,KABENGGA.ID. – Sidang gugatan lingkungan yang diajukan Forum Alam Nusantara (FAN) terhadap pihak tergugat berlangsung lancar pada persidangan hari ini. Dari delapan pihak tergugat, hanya Menteri Lingkungan Hidup yang tidak hadir. Sementara itu, Presiden Republik Indonesia diwakili oleh Jaksa Agung RI dalam proses persidangan.
Ketua FAN, Fatahillah,SH.MH, menyambut positif kehadiran perwakilan pemerintah. Menurutnya, hal tersebut menunjukkan bahwa negara memberikan perhatian terhadap persoalan lingkungan hidup yang menjadi substansi gugatan.
“Kami mengapresiasi kehadiran negara melalui perwakilan Presiden RI dalam sidang ini. Ini menjadi sinyal positif bahwa persoalan lingkungan hidup mendapat perhatian serius,” ujar Fatahillah.
Ia menegaskan, FAN akan mengoptimalkan koordinasi dengan pihak Presiden RI sebagai tindak lanjut dari proses hukum yang sedang berjalan. Menurutnya, komunikasi tersebut penting agar seluruh pihak dapat membuka data dan informasi secara transparan demi memperoleh penyelesaian yang objektif.
“Langkah ini sangat tepat. Kami berharap semua pihak yang berkepentingan dapat membuka data secara terbuka sehingga persoalan lingkungan bisa diselesaikan berdasarkan fakta, bukan sekadar asumsi,” katanya.
Fatahillah menegaskan, gugatan yang diajukan FAN bukan bertujuan menghambat investasi, melainkan menjadi instrumen hukum yang efektif untuk mendorong perbaikan tata kelola lingkungan hidup.
Menurutnya, pihaknya juga menyampaikan apresiasi kepada Presiden RI dan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) yang dinilai telah membuka ruang bagi aspirasi masyarakat.
“Kami melihat pemerintah tidak alergi terhadap kritik. Justru kami berharap momentum ini menjadi ruang dialog untuk mencari solusi terbaik bagi perlindungan lingkungan sekaligus menjaga iklim investasi tetap sehat,” ujarnya.
Fatahillah, yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Bidang Hukum Kadin Sulawesi Tenggara, mengaku tengah menyiapkan konsep yang dinilai lebih ideal untuk menyelaraskan kepentingan investasi dengan perlindungan lingkungan hidup.
“Kami ingin investasi terus berjalan, tetapi perlindungan lingkungan hidup juga tidak boleh dikorbankan. Keduanya harus berjalan beriringan sebagai fondasi pembangunan yang berkelanjutan,” katanya.
Ia mengakui perjuangan tersebut tidak lepas dari berbagai tantangan. Namun, FAN tetap meyakini bahwa upaya yang ditempuh akan bermuara pada perbaikan tata kelola sumber daya alam, peningkatan kesejahteraan masyarakat, serta pelestarian lingkungan hidup.
“Perjuangan ini memang penuh tantangan, tetapi kami yakin tujuannya adalah untuk kepentingan bangsa, kesejahteraan masyarakat, dan menjaga kelestarian lingkungan bagi generasi mendatang,” tutup Fatahillah.(redaksi).
