BOMBANA,KABENGGA ID. – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Membangun Desa (KKN-MD) Universitas Halu Oleo yang bertugas di Kecamatan Poleang Timur, Kabupaten Bombana, melaksanakan survei lapangan dengan menelusuri jaringan irigasi sepanjang kurang lebih 11 kilometer, dimulai dari Bendungan Poleang hingga saluran irigasi Bambaea. Kegiatan tersebut dilakukan sebagai bentuk dukungan terhadap rencana perbaikan jaringan irigasi yang akan dilaksanakan pada wilayah tersebut, sekaligus untuk mengidentifikasi kondisi aktual dan titik-titik yang menjadi penyebab belum optimalnya distribusi air ke lahan pertanian.
Survei dilakukan secara menyeluruh dengan menyusuri jalur air mulai dari Bendungan Poleang, melewati saluran Lemboea 1, Lemboea 2, hingga berakhir di daerah irigasi Bambaea. Selama proses penelusuran, mahasiswa melakukan pengamatan langsung terhadap kondisi fisik saluran, bangunan irigasi, serta aliran air pada setiap titik yang dilalui. Hasil observasi ini diharapkan dapat memberikan gambaran nyata mengenai kondisi jaringan irigasi sebagai bahan informasi yang dapat mendukung proses perencanaan maupun pelaksanaan perbaikan.
Dari hasil penelusuran lapangan, mahasiswa menemukan bahwa terdapat beberapa titik yang menyebabkan distribusi air belum berjalan secara maksimal. Salah satu temuan utama berada pada ruas saluran dari Bendungan Poleang menuju Lemboea 1. Pada lokasi tersebut, aliran air dari bendungan belum tersalurkan secara optimal menuju saluran berikutnya sehingga debit air yang diterima di hilir mengalami penurunan. Kondisi tersebut berdampak pada berkurangnya pasokan air yang mengalir menuju jaringan irigasi selanjutnya hingga ke wilayah Bambaea.
Selain itu, tim juga mengidentifikasi adanya beberapa lokasi yang sebenarnya memiliki potensi menambah pasokan air irigasi. Selama observasi, ditemukan aliran air dari kawasan pegunungan yang mengalir terus menuju sungai tanpa termanfaatkan secara maksimal. Di beberapa titik, masyarakat memanfaatkan sebagian aliran tersebut untuk memenuhi kebutuhan air setempat. Potensi ini dinilai dapat menjadi salah satu bahan pertimbangan dalam pengembangan jaringan irigasi melalui kajian teknis lebih lanjut sehingga sumber daya air yang tersedia dapat dimanfaatkan secara lebih efektif.
Pada jalur menuju Lemboea 2 dan Bambaea, mahasiswa juga menemukan beberapa bagian saluran yang belum tersambung secara optimal sehingga distribusi air harus melalui jalur alternatif dengan kapasitas yang lebih kecil. Kondisi ini menyebabkan debit air yang sampai ke wilayah Bambaea menjadi terbatas, terutama pada musim tanam ketika kebutuhan air meningkat.
Dampak dari keterbatasan distribusi air tersebut terlihat di sejumlah areal persawahan di Bambaea. Berdasarkan hasil pengamatan lapangan dan informasi yang diperoleh dari petani, sebagian lahan mengalami kekurangan air sehingga pertumbuhan tanaman padi terganggu. Pada beberapa petak sawah bahkan ditemukan tanaman padi yang mengering dan mati akibat pasokan air yang tidak mencukupi. Untuk tetap mempertahankan tanaman yang masih ada, sebagian petani harus menggunakan pompa air agar air dari saluran dapat dialirkan ke lahan persawahan.
Koordinator Kecamatan KKN-MD Universitas Halu Oleo Kecamatan Poleang Timur, Razak Syafaat, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut bukan bertujuan untuk mencari kesalahan, melainkan untuk memahami kondisi nyata jaringan irigasi yang akan menjadi sasaran perbaikan.
“Kami turun langsung menyusuri jalur irigasi sepanjang kurang lebih 11 kilometer bukan untuk mencari siapa yang salah, tetapi untuk mengetahui secara langsung di mana letak permasalahan yang menyebabkan distribusi air belum berjalan optimal hingga ke Bambaea. Dengan melihat kondisi di lapangan, kami berharap hasil observasi ini dapat menjadi informasi yang bermanfaat dalam mendukung proses perbaikan saluran irigasi yang akan segera dilaksanakan sehingga nantinya distribusi air kepada masyarakat, khususnya para petani, dapat berjalan lebih baik,” ujar Razak Syafaat.
Ia menambahkan bahwa keberadaan jaringan irigasi memiliki peran yang sangat penting bagi keberlangsungan sektor pertanian di Kecamatan Poleang Timur. Oleh karena itu, upaya perbaikan yang direncanakan diharapkan dapat mengoptimalkan fungsi jaringan irigasi mulai dari Bendungan Poleang hingga daerah layanan Bambaea sehingga ketersediaan air bagi lahan pertanian dapat lebih terjamin.
Melalui kegiatan ini, Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Membangun Desa (KKN-MD) Universitas Halu Oleo berharap hasil observasi lapangan dapat menjadi bagian dari informasi pendukung dalam proses perbaikan infrastruktur irigasi. Semangat kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan perguruan tinggi diharapkan mampu menghadirkan solusi yang berkelanjutan bagi sektor pertanian di Kecamatan Poleang Timur, sehingga para petani dapat memperoleh sistem irigasi yang lebih baik dan produktivitas pertanian di wilayah tersebut terus meningkat.(redaksi).
