JAKARTA ,KABENGGA.ID. — Kementerian Agama (Kemenag) menargetkan 1.781.945 peserta dari berbagai daerah di Indonesia ambil bagian dalam Gema Selawat Kebangsaan untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad saw. Angka tersebut bukan sekadar target partisipasi, tetapi sarat dengan pesan kebangsaan.

Direktur Penerangan Agama Islam Kemenag, Muchlis M. Hanafi, mengatakan Gema Selawat Kebangsaan dirancang sebagai ruang bersama untuk menghidupkan tradisi selawat sekaligus menumbuhkan keteladanan terhadap akhlak Rasulullah saw. dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa.

“Rabiulawal adalah momentum untuk memperbanyak selawat dan memperkuat kecintaan kepada Rasulullah saw. Tetapi cinta tidak cukup berhenti pada lantunan selawat,” ujar Muchlis di Jakarta, Minggu.

Menurutnya, kecintaan kepada Rasulullah harus diwujudkan melalui perilaku nyata, seperti kasih sayang, persaudaraan, kepedulian terhadap sesama, serta kecintaan kepada tanah air.

Target 1.781.945 peserta sengaja dipilih sebagai simbol 17 Agustus 1945, yang menjadi momentum kemerdekaan Indonesia. Kemenag ingin menjadikan selawat bukan hanya sebagai ekspresi spiritual, tetapi juga sebagai energi untuk memperkuat persatuan dan menjaga kecintaan terhadap bangsa.

Pesan kebangsaan itu semakin relevan di tengah sejumlah masyarakat yang sedang menghadapi bencana. Gema Selawat Kebangsaan juga diarahkan menjadi ikhtiar spiritual sekaligus bentuk solidaritas bagi warga terdampak gempa di Nusa Tenggara Timur (NTT) dan kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan.

Dalā’il al-Khayrāt Jadi Bagian Utama

Salah satu rangkaian utama Gema Selawat Kebangsaan adalah pembacaan dan khataman Dalā’il al-Khayrāt, karya Imam Muhammad bin Sulaiman al-Jazuli, ulama besar asal Maroko pada abad ke-9 Hijriah.

Kitab yang berisi kumpulan selawat kepada Nabi Muhammad saw. tersebut telah diwariskan lintas generasi di berbagai wilayah dunia Islam dan menjadi bagian dari khazanah tradisi keagamaan masyarakat Muslim Indonesia.

Pembacaan Dalā’il al-Khayrāt akan dilakukan secara bertahap selama satu pekan berdasarkan pembagian hizib dalam kitab tersebut. Masyarakat dapat mengikuti kegiatan secara berjamaah melalui masjid, majelis taklim, pesantren, lembaga pendidikan, komunitas keagamaan, maupun secara mandiri.

Namun, Kemenag menekankan agar gerakan tersebut tidak berhenti pada aktivitas ritual. Selawat diharapkan menjadi pintu untuk semakin mengenal, mencintai, sekaligus meneladani Rasulullah dalam kehidupan sehari-hari.

Diluncurkan 26 Agustus 2026

Rangkaian Blissful Mawlid 1448 H dan Gema Selawat Kebangsaan dijadwalkan diluncurkan pada 26 Agustus 2026. Peluncuran itu menjadi penanda dimulainya gerakan nasional yang melibatkan berbagai unsur masyarakat dalam menyemarakkan Rabiulawal.

Gerakan tersebut membawa tiga pesan utama: memperbanyak selawat, memperkuat kecintaan kepada Rasulullah saw., dan menghadirkan keteladanan beliau dalam kehidupan sosial serta kebangsaan.

Muchlis mengatakan semangat Blissful Mawlid sejalan dengan perhatian Menteri Agama Nasaruddin Umar dalam menghadirkan kehidupan keagamaan yang membawa kedamaian, memperkuat persaudaraan, dan memberikan kemaslahatan bagi masyarakat.

Pada akhirnya, Maulid Nabi tidak semestinya berhenti sebagai seremoni tahunan. Peringatan tersebut diharapkan mampu menerjemahkan kecintaan kepada Rasulullah menjadi akhlak nyata—memperkuat kepedulian, merawat persaudaraan, dan menjaga persatuan Indonesia.(**).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *