BAUBAU, KABENGGA.ID (14 Oktober 2026). — Gemerlap lampu hias, nyala obor, dan warna-warni busana adat menyulap suasana malam Kota Baubau, Sulawesi Tenggara (Sultra), menjadi panggung budaya yang memikat. Karnaval Budaya dalam rangka memperingati Hari Jadi ke-485 Kota Baubau sekaligus 25 tahun sebagai daerah otonom, Selasa (13/10/2026), berlangsung meriah dengan antusiasme masyarakat yang memadati sepanjang jalur kegiatan.
Karnaval tersebut menghadirkan beragam kekayaan seni dan budaya, mulai dari busana adat Buton, kreasi busana etnik, hingga pertunjukan seni kontemporer. Sejumlah paguyuban, pelajar, komunitas seni, serta kontingen dari berbagai kecamatan turut ambil bagian, menampilkan kreativitas sekaligus memperkenalkan identitas budaya daerah kepada masyarakat luas.
Berbeda dari pelaksanaan tahun-tahun sebelumnya yang umumnya digelar pada siang hari, karnaval kali ini berlangsung pada malam hari. Konsep tersebut memberikan nuansa tersendiri, dengan permainan cahaya dari lampu hias dan nyala obor yang menambah daya tarik setiap penampilan peserta.
Wali Kota Baubau, Yusran Fahim, mengatakan perubahan waktu pelaksanaan menjadi salah satu hal yang membedakan karnaval budaya tahun ini. Menurutnya, respons masyarakat menunjukkan tingginya minat warga terhadap kegiatan yang mengangkat seni dan tradisi daerah tersebut.
“Kegiatan karnaval budaya seperti ini biasanya kita laksanakan di siang hari, akan tetapi kali ini kita adakan di malam hari dan kita lihat antusias dari masyarakat kita sangat besar,” ujarnya melalui keterangan resmi.
Antusiasme warga sudah terlihat sejak sore hari, ketika masyarakat mulai memadati lintasan karnaval untuk menyaksikan langsung penampilan para peserta. Memasuki malam, suasana semakin semarak dengan perpaduan kostum tradisional, atraksi seni, serta pencahayaan yang memperkuat atmosfer perayaan.
Selain menjadi bagian dari rangkaian peringatan hari jadi daerah, karnaval budaya ini juga menjadi ruang bagi masyarakat untuk berpartisipasi dalam menjaga dan memperkenalkan warisan budaya. Keterlibatan pelajar, komunitas seni, paguyuban, dan kontingen kecamatan memperlihatkan bahwa pelestarian budaya membutuhkan dukungan berbagai elemen masyarakat.
Wakil Wali Kota Baubau, Wa Ode Hamsinah Bolu, mengapresiasi partisipasi masyarakat yang dinilai turut mendukung kelancaran dan kemeriahan kegiatan. Ia menegaskan, penyelenggaraan karnaval bukan semata-mata menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga membutuhkan keterlibatan aktif warga.
“Ini merupakan bukti dari kerja bersama bahwa pemerintah kota tidak melaksanakan sendiri, tetapi partisipasi dari masyarakat yang sangat simpati dan luar biasa, ini sangat berterima kasih dan insyaallah tahun depan kita bisa laksanakan lebih meriah lagi dan lebih baik,” jelasnya melalui keterangan resmi.
Pemerintah Kota Baubau berharap kegiatan serupa dapat terus dikembangkan pada tahun-tahun mendatang, baik dari sisi penyelenggaraan maupun kreativitas peserta. Dengan melibatkan lebih banyak unsur masyarakat, karnaval budaya diharapkan menjadi agenda perayaan yang semakin menarik sekaligus memperkuat kecintaan generasi muda terhadap tradisi dan identitas lokal.
Kemegahan karnaval malam itu menjadi bagian dari perayaan perjalanan panjang Kota Baubau yang memasuki usia ke-485, sekaligus menandai 25 tahun perjalanan sebagai daerah otonom. Lebih dari sekadar hiburan, kegiatan tersebut menghadirkan ruang kebersamaan bagi masyarakat untuk merayakan sejarah, keberagaman, dan kekayaan budaya Kota Baubau.(redaksi).
