JAKARTA – Gelombang panas ekstrem yang melanda sejumlah negara di Eropa terus menimbulkan dampak serius. Suhu udara yang menembus lebih dari 35 derajat Celsius tidak hanya meningkatkan angka kematian, tetapi juga mengganggu pasokan energi dan mengancam aktivitas ekonomi di sejumlah negara.

Prancis menjadi salah satu negara yang terdampak paling parah. Badan Kesehatan Masyarakat Prancis melaporkan lebih dari 1.000 kematian tambahan sejak 24 Juni 2026 akibat suhu panas yang melanda sebagian besar wilayah negara tersebut.

Dalam keterangannya, otoritas kesehatan menyebut sekitar 85 persen korban merupakan warga lanjut usia berusia di atas 65 tahun. Sebagian besar meninggal dunia di rumah, terutama di kawasan Ile-de-France yang mencakup Paris. Pemerintah juga mengingatkan pentingnya perlindungan terhadap kelompok rentan, termasuk lansia yang tinggal sendiri.

Sementara itu, Spanyol juga mencatat lonjakan korban jiwa akibat cuaca ekstrem. Sistem pemantauan kematian MoMo memperkirakan sedikitnya 212 kematian tambahan terjadi selama 21 hingga 24 Juni 2026 yang berkaitan dengan gelombang panas.

Gelombang panas diperkirakan masih akan terus memengaruhi sebagian besar wilayah Eropa. Berdasarkan analisis prakiraan cuaca, sekitar 191 juta penduduk diperkirakan mengalami suhu minimal 35 derajat Celsius, sementara sekitar 381 juta orang menghadapi suhu di atas 30 derajat Celsius.

Negara-negara yang terdampak antara lain Jerman, Republik Ceko, Hungaria, Polandia, Italia, Austria, Prancis, hingga Belanda. Kawasan perkotaan diperkirakan mengalami dampak lebih besar akibat fenomena pulau panas perkotaan (urban heat island).

Selain mengancam keselamatan warga, suhu ekstrem juga mulai mengganggu sektor energi. Perusahaan energi Swiss, Axpo, menghentikan sementara operasional dua reaktor Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Beznau karena meningkatnya suhu Sungai Aare yang digunakan sebagai pendingin reaktor.

Di Prancis, perusahaan listrik EDF juga menonaktifkan sementara beberapa reaktor nuklir untuk mencegah pembuangan air pendingin bersuhu tinggi ke sungai yang berpotensi merusak ekosistem.

Belanda bahkan mengeluarkan peringatan merah untuk pertama kalinya setelah suhu diperkirakan mencapai 40 derajat Celsius di sejumlah wilayah. Pemerintah setempat mengimbau masyarakat membatasi aktivitas di luar ruangan dan hanya melakukan perjalanan jika benar-benar diperlukan.

Dampak gelombang panas juga mulai dirasakan sektor ekonomi. Studi Allianz yang dikutip Deutsche Welle memperkirakan Jerman berpotensi mengalami kerugian hingga 131 miliar dolar AS atau sekitar Rp2.353 triliun sepanjang periode 2026–2030 akibat turunnya produktivitas tenaga kerja dan meningkatnya biaya energi.

Para ahli menilai gelombang panas yang semakin sering terjadi menjadi peringatan bahwa perubahan iklim kini membawa dampak nyata terhadap kesehatan masyarakat, ketahanan energi, dan stabilitas ekonomi di berbagai negara Eropa.**

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *