KONAWE SELATAN, KABENGGA.ID — Keputusan SMA Negeri 1 Konawe Selatan mengeluarkan dua orang siswanya menuai sorotan. Salah satu siswa diketahui bernama Muhammad Fatir Al-Farisi.
Pihak keluarga mempertanyakan proses pengambilan keputusan tersebut. Mereka menduga pengeluaran siswa dilakukan tanpa melalui pembahasan bersama komite sekolah maupun melibatkan orang tua secara memadai.
Persoalan itu disebut bermula ketika kedua siswa hendak menuju kantin sekolah karena merasa haus. Dalam perjalanan, terjadi ketegangan dengan seorang satpam sekolah. Berdasarkan keterangan yang diperoleh, satpam tersebut diduga menunjukkan gestur yang dinilai mengancam, termasuk menggulung lengan baju dan melepas jam tangan.
Situasi kemudian memanas. Salah satu siswa yang merasa terancam sempat mengambil batu sebagai bentuk perlindungan diri. Namun, berdasarkan keterangan yang disampaikan kepada media, tidak terjadi perkelahian fisik dalam kejadian tersebut.
Perselisihan berlanjut setelah salah satu siswa terlibat adu mulut dengan seorang guru. Dalam perkembangan berikutnya, siswa tersebut disebut dituduh melakukan pemukulan terhadap guru dan satpam. Tuduhan itu dibantah oleh siswa yang bersangkutan karena mengaku tidak melakukan pemukulan.
Siswa tersebut kemudian dikenai sanksi tidak mengikuti kegiatan belajar selama satu minggu.
Setelah masa sanksi berakhir, siswa bersama ibunya datang ke sekolah untuk meminta maaf dan berharap dapat kembali mengikuti proses belajar. Keluarga siswa menyebut sejumlah guru telah memberikan maaf.
Namun, persoalan disebut belum selesai ketika keluarga berupaya menemui kepala sekolah. Menurut keterangan keluarga, siswa tersebut kemudian tidak diperkenankan kembali bersekolah dan akhirnya dinyatakan dikeluarkan secara permanen.
Dalam proses mempertanyakan keputusan tersebut, keluarga juga menyoroti ucapan salah seorang guru kepada siswa. Guru tersebut disebut mengatakan, “Hebat juga kamu, banyak backing-an.” Ucapan itu dipersoalkan karena dinilai tidak semestinya disampaikan kepada seorang peserta didik dalam situasi yang sedang menghadapi persoalan disiplin.
Pihak keluarga berharap persoalan tersebut dapat diklarifikasi secara terbuka, termasuk mengenai dasar keputusan pengeluaran siswa, mekanisme pemberian sanksi, serta sejauh mana orang tua dan pihak sekolah dilibatkan dalam proses tersebut.
Sorotan utama bukan hanya menyangkut sanksi terhadap siswa, tetapi juga menyangkut proses pembinaan dan mekanisme pengambilan keputusan. Dalam penanganan persoalan peserta didik, pihak keluarga menilai semestinya tersedia ruang dialog dan pembinaan secara bertahap sebelum diambil keputusan yang berdampak terhadap keberlanjutan pendidikan siswa.
Media ini telah berupaya meminta konfirmasi kepada Kepala SMA Negeri 1 Konawe Selatan melalui pesan singkat WhatsApp terkait kronologi kejadian, dasar keputusan pengeluaran, serta mekanisme yang ditempuh pihak sekolah.
Namun, hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan atau klarifikasi dari kepala sekolah yang diterima media.
Media ini tetap membuka ruang hak jawab dan klarifikasi bagi pihak SMA Negeri 1 Konawe Selatan maupun pihak lain yang disebut dalam pemberitaan ini./DR.
