Kendari – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) memperkuat upaya pencegahan ‘bullying’ dan kekerasan di lingkungan sekolah melalui pelaksanaan program ‘psychology education’ di satuan pendidikan.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dikbud Sultra, Prof. Aris Badara, menegaskan pihaknya menaruh perhatian serius terhadap persoalan tersebut. Menurutnya, sebagian besar kasus yang muncul selama ini telah diselesaikan dengan pendekatan persuasif.

“Kasus yang terjadi umumnya bisa ditangani dengan baik melalui pendekatan pembinaan dan komunikasi,” ujar Aris.

Ia menjelaskan, Dikbud Sultra telah berkoordinasi dengan psikolog dan dalam waktu dekat akan menggelar program psychology education di sekolah-sekolah. Bahkan, tim dari dinas turut turun langsung ke rumah siswa yang diduga mengalami bullying guna memberikan pendampingan, baik kepada anak maupun orang tua.

Selain itu, Dikbud Sultra juga telah mengirimkan surat edaran ke sekolah terkait pembatasan serta pemanfaatan telepon genggam (handphone) di lingkungan sekolah. Peran guru dan wali kelas juga terus diperkuat dalam pengawasan dan pembinaan siswa.

Pada 2026 ini, Dikbud Sultra turut melakukan pemetaan potensi intoleransi, bullying, dan kekerasan di sekolah sebagai langkah antisipasi dini.

Sesuai arahan Gubernur Sultra, pihaknya juga akan membangun sistem berbasis web untuk pendataan siswa yang memiliki fobia, intoleransi, maupun alergi tertentu. Data tersebut nantinya diinput melalui guru Bimbingan Konseling (BK) di masing-masing sekolah.

Terkait program Sekolah Garuda, Aris menyebut prosesnya masih berjalan dan datanya bersifat dinamis. Seleksi kepala sekolah dilakukan secara ketat, termasuk persyaratan kemampuan bahasa Inggris setara standar masuk perguruan tinggi terbaik.
Kuota Sekolah Garuda ditetapkan sebanyak 160 siswa, namun proses seleksi peserta didik masih berlangsung sehingga data final belum dapat dipublikasikan.

Lebih lanjut, ia menambahkan, sebagai program prioritas Gubernur, Pemerintah Provinsi Sultra juga menyiapkan siswa untuk melanjutkan kuliah maupun bekerja di luar negeri. Siswa SMA dipersiapkan menembus perguruan tinggi terbaik melalui penguatan kemampuan bahasa, sedangkan siswa SMK diarahkan pada peluang kerja luar negeri melalui pembelajaran bahasa dan sertifikasi kompetensi.

“Dinas sudah bekerja sama dengan berbagai lembaga penyedia sertifikasi, termasuk BLK dan KPTK di Makassar,” imbuhnya (redaksi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *