KENDARI,KABENGGA.ID (31 Agustus 2026) – Polemik pergantian Ketua DPRD Provinsi Sulawesi Tenggara dari Partai NasDem kembali menjadi perhatian publik. Setelah sebelumnya La Ode Tariala didorong untuk digantikan dan muncul nama Syahrul Said, kini keputusan kembali berubah dengan ditetapkannya Sudarmanto Saeka.
Rangkaian tersebut menimbulkan pertanyaan serius: apa sebenarnya alasan Partai NasDem begitu ngotot mengganti La Ode Tariala dari posisi Ketua DPRD Sultra?
Riski, Pemuda Sultra sekaligus Anggota MPM UHO 2026, mempertanyakan alasan di balik keputusan tersebut.
“Yang pertama harus dijelaskan adalah alasan sebenarnya mengapa Pak La Ode Tariala harus diganti. Beliau merupakan kader NasDem yang memperoleh dukungan suara besar dari masyarakat. Kalau memang ada persoalan mendasar, sampaikan kepada publik. Kalau tidak ada, lalu apa alasan sebenarnya?”
DARI TARIALA, SYAHRUL SAID, HINGGA SUDARMANTO SAEKA
Setelah Tariala didorong untuk digantikan, Syahrul Said kemudian muncul sebagai figur yang ditetapkan berdasarkan surat Nomor 28A-SK/AKD/DPP-NasDem/XI/2025 tertanggal 20 November 2025. Namun keputusan tersebut kembali dicabut dan Sudarmanto Saeka di tetapkan yang dimana Penetapan Sudarmanto tertuang dalam Keputusan DPP Partai NasDem Nomor 28B-SK/AKD/DPP-NasDem/VIII/2026.
Perubahan Tariala, Syahrul Said, Sudarmanto Saeka inilah yang membuat publik mempertanyakan konsistensi keputusan di tubuh NasDem Sultra.
Riski menilai persoalan tersebut tidak boleh dibiarkan tanpa penjelasan.
“Kalau Tariala diganti karena alasan tertentu, jelaskan. Kalau Syahrul Said sebelumnya dianggap layak tetapi kemudian SK-nya dicabut, jelaskan pula alasannya. Dan kalau Sudarmanto Saeka sekarang dianggap paling tepat, apa dasar pertimbangannya?”
NASDEM JANGAN SAMPAI KEHILANGAN CITRA RESTORASI
Polemik ini juga menyangkut citra Partai NasDem sebagai partai yang membawa gagasan “Gerakan Perubahan dan Restorasi Indonesia”.
Riski mengingatkan bahwa citra partai tidak dibangun hanya melalui slogan, tetapi melalui tindakan dan keputusan politik.
“Kalau keputusan terus berubah tanpa penjelasan yang terang, yang dipertaruhkan bukan hanya nama kader, tetapi citra Partai NasDem di mata masyarakat Sulawesi Tenggara,” ujarnya.
ALI MAZI DAN SURYA PALOH HARUS MEMASTIKAN KEPUTUSAN YANG TRANSPARAN
Pertanyaan ini secara khusus perlu dijawab Ali Mazi selaku Ketua DPW NasDem Sultra: apa dasar DPW NasDem mengusulkan pergantian La Ode Tariala dan kemudian terjadi perubahan figur berikutnya?
Apakah DPP mengetahui alasan pergantian La Ode Tariala? Apakah DPP mengetahui proses penetapan Syahrul Said yang kemudian dicabut? Dan apakah seluruh dinamika tersebut telah disampaikan secara objektif kepada pimpinan pusat?
“Kami ingin bertanya kepada Bapak Surya Paloh selaku Ketua Umum DPP NasDem, apakah DPP benar-benar mengetahui dinamika yang terjadi di Sultra hari ini? Jangan sampai keputusan di tingkat pusat hanya berdasarkan informasi dari satu pihak. Semua pihak harus didengar agar keputusan yang diambil benar-benar objektif,” ujar Riski.
MASIH BANYAK URUSAN RAKYAT YANG LEBIH URGENT
Riski menilai, pergantian pimpinan harus memiliki alasan yang benar-benar kuat dan bukan sekadar menjadi ajang tarik-menarik kepentingan internal.
“Masih banyak tugas dan kewajiban DPRD yang lebih urgent untuk ditunaikan. Jangan sampai energi para elite justru habis untuk gontok-gontokan soal pergantian Ketua DPRD” tegas Riski.(redaksi).
