KABENGGA.ID. – Langkah Belanda di Piala Dunia 2026 terhenti secara dramatis. De Oranje dipastikan angkat koper dari babak 32 besar setelah takluk dari Maroko lewat adu penalti usai bermain imbang 1-1 selama 120 menit.
Belanda sempat berada di atas angin setelah Cody Gakpo membuka keunggulan pada waktu normal. Namun, kemenangan yang sudah di depan mata sirna ketika Issa Diop mencetak gol penyeimbang pada masa injury time melalui sundulan memanfaatkan umpan Chemsdine Talbi.
Skor 1-1 bertahan hingga babak tambahan 2×15 menit, memaksa pertandingan ditentukan melalui adu penalti. Di babak tos-tosan, petaka menghampiri Belanda. Tiga eksekutor De Oranje gagal menjalankan tugasnya, sementara tiga penendang Maroko sukses menuntaskan penalti.
Kekalahan itu membuat Belanda mengikuti jejak Jerman, Afrika Selatan, dan Jepang yang lebih dulu tersingkir dari fase gugur. Sebaliknya, Maroko melaju ke babak 16 besar dan akan menghadapi Kanada.
Kegagalan Belanda langsung menuai sorotan tajam. Legenda sepak bola Swedia, Zlatan Ibrahimović, menuding pelatih Ronald Koeman sebagai sosok yang paling bertanggung jawab atas tersingkirnya De Oranje.
“Menurut saya, kekalahan ini adalah tanggung jawab Koeman karena saya tidak mengenali tim Belanda yang ia pimpin. Dia kalah dengan identitas yang bukan merupakan identitas Belanda, dan itu membuat saya marah,” tegas Ibrahimovic.
Menurut mantan penyerang Ajax, AC Milan, dan Manchester United itu, Koeman justru meninggalkan formula yang sebelumnya terbukti efektif.
Ia menilai Belanda tampil impresif sepanjang fase grup dengan skema 4-2-3-1, menghasilkan 10 gol dan hanya kebobolan empat kali dalam tiga pertandingan. Namun, saat menghadapi Maroko, Koeman mengubah pendekatan menjadi formasi 5-2-2-1 yang dinilai terlalu defensif dan gagal mengimbangi permainan lawan.
“Koeman kemudian memutuskan mengubah formasi dan taktik. Pola yang sebelumnya terbukti efektif justru ditinggalkan, dan perubahan itu tidak berjalan baik saat menghadapi Maroko,” ujar Ibrahimovic.
Kritik tersebut menguat karena Belanda selama ini dikenal sebagai pelopor filosofi Total Football, gaya bermain menyerang yang menjadi identitas sepak bola Negeri Kincir Angin. Di laga kontra Maroko, permainan Denzel Dumfries dan kawan-kawan justru dinilai terlalu berhati-hati dan lebih mengutamakan pertahanan.
Meski mendapat kritik keras, Koeman tetap membela keputusan taktisnya. Pelatih berusia 63 tahun itu menegaskan perubahan strategi dilakukan untuk meredam kecepatan para pemain Maroko yang dinilai sangat berbahaya dalam memanfaatkan ruang.
“Saya memutuskan bermain dengan cara ini karena kami memberikan terlalu banyak ruang di fase grup. Kami perlu melakukan penjagaan yang lebih baik. Maroko adalah tim hebat dengan pemain-pemain bintang. Keputusan ini saya ambil setelah berdiskusi dengan tim, dan saya sama sekali tidak menyesalinya,” kata Koeman.
Ia juga mengungkapkan bahwa pergantian pemain menjelang adu penalti dilakukan demi meningkatkan peluang kemenangan. Namun, absennya sejumlah eksekutor utama membuat rencananya tidak berjalan sesuai harapan.
“Saya berusaha mengubah susunan tim dengan mempertimbangkan siapa saja yang bisa mengeksekusi penalti. Saya kehilangan Frenkie de Jong, saya kehilangan Gakpo, sehingga mencoba memasukkan pemain-pemain yang mampu mengambil penalti. Hasilnya tidak sesuai harapan, mau bagaimana lagi?” tutup Koeman.**
