MUNA , KABENGGA.ID.(29 MEI 2026 ) – Pendidikan sejarah berbasis kearifan lokal kini menjadi fokus utama dalam implementasi Kurikulum Merdeka, seiring dengan dimanfaatkannya Situs Liang Kabori di Kabupaten Muna sebagai sumber belajar utama. Langkah ini dinilai strategis untuk mendekatkan peserta didik pada akar budaya, sejarah leluhur, serta memperkuat karakter dan identitas budaya generasi muda Sulawesi Tenggara.
Penelitian mendalam ini dilakukan oleh tim peneliti dari Kabupaten Muna yang terdiri dari Wa Ode Salfia, Bachtiar Syaiful Bachri, dan Citra Fitri Kholidya, yang telah melakukan pengamatan langsung, pendataan, dan kajian budaya selama berbulan-bulan di lokasi situs serta berdiskusi dengan tokoh masyarakat dan pengelola warisan budaya setempat. Berdasarkan hasil kajian mereka, integrasi nilai budaya lokal dan pemanfaatan situs sejarah seperti Liang Kabori terbukti menjadikan pembelajaran lebih bermakna, kontekstual, dan relevan dengan kehidupan nyata siswa. Hal ini sejalan dengan pendapat Rispan & Sudrajat (2019) yang menegaskan bahwa memasukkan nilai kearifan lokal ke dalam materi sejarah dapat meningkatkan keterhubungan emosional siswa dengan lingkungan sosial dan budayanya, sekaligus menumbuhkan kesadaran sejarah yang kuat. Nilai-nilai seperti persatuan, keharmonisan, keadilan, rasa malu, gotong royong, dan sopan santun—seperti yang terdapat dalam kearifan lokal Kalosara—menjadi dasar pembentukan moral siswa agar memiliki pengetahuan, perasaan, dan tindakan yang berkarakter luhur.
Situs Liang Kabori merupakan salah satu warisan budaya terpenting masyarakat Muna yang menyimpan jejak peradaban manusia prasejarah. Di dinding gua ini terdapat ratusan lukisan cadas yang menggambarkan kehidupan masa lampau, mulai dari aktivitas berburu, bercocok tanam, kehidupan sosial, hingga simbol-simbol kepercayaan. Namun sebagaimana dicatat oleh tim peneliti, masih banyak bagian lukisan dan simbol yang belum terbaca, belum teridentifikasi, maupun maknanya belum sepenuhnya dipahami—hal ini menjadi kekayaan sekaligus tantangan besar yang masih terbuka untuk dikaji lebih lanjut. Seperti yang tercatat dalam berbagai kajian sejarah dan arkeologi, keberadaan situs ini bukan hanya bukti keberadaan manusia purba, melainkan cerminan identitas budaya masyarakat Muna yang diwariskan secara turun-temurun (Tang, Erawati, & Nur, 2020; Rasyidu, Syahrun, & Suseno, 2021; Herdiani dkk., 2024). Lukisan-lukisan tersebut bukan sekadar gambar, melainkan sarana komunikasi, ekspresi seni, dan wujud pemikiran simbolik nenek moyang yang menunjukkan hubungan erat antara manusia, alam, dan kepercayaan. Keberadaan lukisan-lukisan ini juga membuktikan bahwa masyarakat Muna sejak dahulu telah memiliki kebudayaan dan kemampuan berpikir yang berkembang, serta adanya kesinambungan nilai budaya dari generasi ke generasi sebagai bagian dari identitas sosial dan budaya masyarakat setempat.
Dalam kerangka Kurikulum Merdeka, pendekatan pembelajaran dirancang berpusat pada peserta didik, aktif, dan fleksibel. Pembelajaran tidak lagi hanya berbasis teori di dalam kelas, melainkan dikembangkan melalui metode Pembelajaran Berbasis Proyek dan kegiatan kontekstual. Siswa diajak melakukan observasi langsung ke lokasi situs, meneliti lukisan dinding gua—termasuk bagian yang belum terbaca—mencoba menafsirkan maknanya, mendalami simbolik, hingga mendokumentasikan kekayaan sejarah daerahnya. Hal ini sejalan dengan tujuan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) yang mendorong eksplorasi isu budaya, sejarah, dan lingkungan sekitar (Ginting & Sulasmi, 2025; Afifah, 2025). Melalui pendekatan ini, siswa dilatih berpikir kritis, memecahkan masalah, berkolaborasi, dan memiliki kepedulian nyata terhadap lingkungan sosial dan budayanya.
“Melalui pemanfaatan Liang Kabori, siswa tidak sekadar menghafal materi tentang masa praaksara, tetapi mereka melihat, merasakan, dan memahami bukti sejarah yang ada di depan mata mereka sendiri,” ungkap Wa Ode Salfia, salah satu peneliti. “Bahkan lukisan yang belum terbaca pun menjadi daya tarik: mengajak siswa bertanya, meneliti, dan menjadi peneliti cilik yang berusaha mengungkap pesan masa lalu. Ini menumbuhkan rasa cinta tanah air, sikap menghargai warisan leluhur, dan tanggung jawab untuk melestarikannya.”
Secara teknis, integrasi ini dilakukan pada capaian pembelajaran, tujuan pembelajaran, dan materi ajar yang disesuaikan. Siswa diarahkan untuk menganalisis pola kehidupan masyarakat masa lalu, mengaitkannya dengan bukti nyata di Liang Kabori, serta memahami nilai historis yang terkandung di dalamnya. Dalam capaian pembelajaran, materi Kehidupan Masyarakat Praaksara Indonesia dan Pemanfaatan Peninggalan Sejarah Lokal dikaitkan langsung dengan bukti sejarah yang ada di lingkungan sekitar, sehingga peserta didik mampu mengidentifikasi hubungan antara materi pelajaran dengan realitas di lingkungannya. Tujuan pembelajaran pun dirumuskan agar siswa tidak hanya memahami karakteristik kehidupan masa lalu, tetapi juga mampu menjelaskan sejarah Situs Liang Kabori serta nilai-nilai budaya yang terkandung di dalamnya.
Secara materi pembelajaran, integrasi ini mencakup empat pokok bahasan utama:
- Kehidupan Masyarakat Praaksara
Siswa mempelajari perkembangan pola hidup manusia dari masa berburu-meramu yang berpindah-pindah (nomaden), hingga masa bercocok tanam yang mulai menetap (sedenter). Mereka memahami bagaimana masyarakat gua memanfaatkan alam dan lingkungan karst sebagai tempat berlindung, membentuk kelompok sosial, serta mengembangkan cara memenuhi kebutuhan hidup dengan alat-alat sederhana dari batu, tulang, dan kayu. Kehidupan di gua biasanya ditemukan pada masa berburu dan meramu tingkat lanjut, di mana mereka hidup berkelompok, memiliki pembagian tugas yang jelas, serta interaksi sosial yang mulai teratur. Pembelajaran ini mengajarkan kemampuan beradaptasi dan kerja sama kelompok sebagai kunci bertahan hidup. - Lukisan Dinding Gua sebagai Sumber Sejarah
Materi ini mengkaji ragam lukisan yang ada di Liang Kabori, yang dibuat menggunakan bahan alami seperti tanah liat berwarna, arang, atau pigmen tumbuhan dan mineral. Berbagai bentuk lukisan tersebut antara lain:
- Lukisan Manusia: Menggambarkan aktivitas sosial, tarian, atau ritual yang mencerminkan interaksi antarwarga, serta memiliki makna simbolik berkaitan dengan kepercayaan.
- Lukisan Hewan: Menggambarkan hewan buruan seperti rusa dan babi hutan yang menunjukkan hubungan manusia dengan alam serta sumber pangan utama, juga sering dikaitkan dengan harapan melimpahnya hasil buruan.
- Simbol Matahari dan Geometris: Menggambarkan penghormatan terhadap kekuatan alam dan sumber kehidupan, sebagai bentuk pemujaan terhadap kekuatan yang dianggap mempengaruhi kehidupan manusia.
- Adegan Berburu: Menunjukkan strategi, pembagian tugas, dan semangat gotong royong dalam kelompok untuk mendapatkan makanan.
Sebagaimana disampaikan Bachtiar Syaiful Bachri, banyak simbol dan gambar abstrak yang masih belum terbaca maknanya, dan ini menjadi bagian penting pembelajaran: siswa diajak mengumpulkan data, membandingkan dengan situs lain, dan menyusun dugaan makna secara ilmiah. Setiap lukisan—baik yang sudah maupun belum terjelaskan—dikaji nilainya sebagai bukti perkembangan seni, budaya, pola pikir, dan kemampuan komunikasi manusia masa lalu.
- Sistem Kepercayaan dan Nilai Spiritual
Siswa mempelajari bagaimana masyarakat prasejarah meyakini adanya kekuatan gaib, roh leluhur, dan kekuatan alam yang mempengaruhi kehidupan mereka. Konsep animisme (kepercayaan roh mendiami benda) dan dinamisme (benda memiliki kekuatan gaib) tercermin dalam simbol-simbol yang dilukiskan, ritual penghormatan, tata cara penguburan, serta pemberian sesaji. Hal ini menjadi dasar pemahaman siswa tentang akar nilai-nilai spiritual, keseimbangan hubungan manusia dengan alam, dan toleransi yang masih hidup dalam budaya Muna hingga kini. Simbol seperti cap tangan, gambar abstrak, dan lambang tertentu—sebagian besar masih belum terbaca—dipelajari maknanya sebagai perlindungan atau tanda keberadaan manusia. - Nilai Budaya Lokal yang Relevan
Dari jejak sejarah tersebut, ditarik nilai-nilai luhur yang masih relevan dan diwariskan hingga sekarang, sebagaimana diuraikan Citra Fitri Kholidya, yaitu:
- Gotong Royong: Kerja sama dalam berburu, membangun tempat tinggal, menjaga keamanan kelompok, hingga dalam kegiatan adat dan kehidupan bermasyarakat sehari-hari. Nilai ini menanamkan sikap peduli, solidaritas, dan tanggung jawab bersama.
- Adaptasi Lingkungan: Kearifan lokal dalam memanfaatkan gua dan hasil alam sesuai kondisi geografis, menunjukkan kecerdasan manusia bertahan hidup tanpa merusak lingkungan.
- Pelestarian Budaya: Kesadaran untuk menjaga, merawat, dan mewariskan peninggalan sejarah—termasuk bagian yang belum terbaca—agar tidak hilang tergerus zaman. Sikap ini penting untuk menjaga identitas dan warisan leluhur.
Implementasi materi ini juga secara langsung memperkuat enam dimensi Profil Pelajar Pancasila dalam Kurikulum Merdeka:
✅ Beriman, Bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan Berakhlak Mulia: Memahami nilai penghormatan terhadap Sang Pencipta, alam, dan sesama manusia yang telah tumbuh sejak masa lalu; menumbuhkan rasa syukur dan perilaku baik.
✅ Berkebinekaan Global: Mengenal identitas budaya sendiri sekaligus menghargai kekayaan dan keragaman budaya bangsa lain sebagai kekayaan bersama.
✅ Gotong Royong: Dilatih melalui kerja kelompok, observasi bersama, diskusi, dan proyek pelestarian situs sejarah untuk mencapai tujuan bersama.
✅ Mandiri: Siswa terdorong aktif mencari informasi, mengelola tugas, dan bertanggung jawab penuh atas proses belajarnya sendiri.
✅ Bernalar Kritis: Mampu menganalisis bukti sejarah, menafsirkan makna lukisan dan simbol—termasuk yang belum terbaca—serta menarik kesimpulan secara objektif berdasarkan fakta.
✅ Kreatif: Mengembangkan karya seperti dokumentasi, poster, lukisan tiruan, pameran budaya, atau interpretasi seni dari hasil kajian situs.
Para ahli pendidikan dan budaya, seperti Ata, Tobing, & Avianty (2024), menegaskan bahwa pendidikan sejarah memiliki peran vital dalam mempertahankan identitas budaya. Dengan menjadikan situs lokal sebagai sumber belajar, generasi muda tidak kehilangan jati diri di tengah arus modernisasi. Nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya menjadi fondasi pembentukan karakter siswa yang berbudaya, peduli lingkungan, dan sadar sejarah.
Penelitian tim Wa Ode Salfia, Bachtiar Syaiful Bachri, dan Citra Fitri Kholidya ini juga menegaskan bahwa pemanfaatan Liang Kabori tidak hanya meningkatkan pemahaman akademik siswa, tetapi juga menumbuhkan kesadaran hukum dan tanggung jawab sosial. Warisan budaya ini dinilai sebagai aset daerah yang harus dijaga—termasuk bagian yang belum terbaca—tidak hanya sebagai benda purba, tetapi sebagai bukti peradaban yang mengajarkan nilai kehidupan.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Muna berharap langkah ini dapat diterapkan di seluruh satuan pendidikan. “Liang Kabori adalah aset tak ternilai. Mengubahnya menjadi ruang kelas terbuka adalah cara terbaik mewariskan sejarah sekaligus menjaga kelestariannya agar tetap lestari bagi generasi mendatang,” ujarnya.
Kesimpulan dan Rekomendasi Penelitian
Integrasi Situs Liang Kabori dalam pembelajaran sejarah berbasis Kurikulum Merdeka terbukti efektif menciptakan pembelajaran yang kontekstual, bermakna, dan berpusat pada peserta didik. Pemanfaatan situs ini mampu menghubungkan materi teori dengan bukti nyata di lingkungan sekitar, serta memperkuat karakter peserta didik sesuai Profil Pelajar Pancasila. Bagian lukisan dan simbol yang belum terbaca justru menjadi nilai tambah: memicu rasa ingin tahu dan semangat meneliti.
Oleh karena itu, peneliti menyarankan agar:
1. Guru terus mengembangkan materi ajar berbasis sejarah lokal yang dekat dengan kehidupan siswa, termasuk mengangkat bagian yang belum terbaca sebagai topik penelitian siswa.
2. Sekolah menjalin kerja sama dengan pengelola situs, dinas kebudayaan, dan tokoh masyarakat untuk mendukung pembelajaran luar kelas dan pelestarian budaya.
3. Peserta didik memiliki kesadaran penuh dan rasa tanggung jawab untuk ikut menjaga, merawat, dan melestarikan peninggalan sejarah sebagai bagian dari identitas bangsa.
Langkah ini diharapkan menjadi model pembelajaran budaya di Indonesia, di mana sejarah lokal—termasuk pesan yang masih tersembunyi—menjadi jembatan emas yang menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan bangsa, sekaligus memperkokoh jati diri masyarakat Sulawesi Tenggara yang kaya akan kearifan lokal.
Diterbitkan: 29 Mei 2026
Sumber: Hasil Penelitian Mandiri– Tim Peneliti Kabupaten Muna: Wa Ode Salfia, Bachtiar Syaiful Bachri, Citra Fitri Kholidya/FI.
