Kendari – Wakil Gubernur Hugua menegaskan komitmen Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara untuk mengoptimalkan pemanfaatan aset strategis di sektor kelautan dan perikanan sebagai motor penggerak ekonomi daerah sekaligus peningkat kesejahteraan masyarakat.

Penegasan itu disampaikan saat melakukan kunjungan kerja ke Balai Benih Udang Mata dan Balai Jasa Dok Perbengkelan, Kamis (26/3/2026).

Dalam kunjungan tersebut, Hugua menekankan bahwa arah pembangunan daerah harus berfokus pada sektor-sektor produktif bernilai ekonomi tinggi yang mampu memberikan kontribusi nyata terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD).

Ia menilai, optimalisasi aset yang telah dimiliki pemerintah merupakan langkah strategis yang lebih efektif ketimbang membangun dari nol tanpa perencanaan yang matang. Karena itu, kebijakan alokasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) ke depan harus diprioritaskan untuk memperkuat fasilitas yang telah terbukti memberi dampak ekonomi.

“Pemanfaatan aset harus maksimal. Kita dorong agar seluruh fasilitas yang ada benar-benar produktif, menciptakan nilai tambah, dan berdampak langsung bagi masyarakat,” tegasnya.

Hugua juga menggarisbawahi pentingnya sinergi antara Pemerintah Daerah dan DPRD agar pengembangan sektor kelautan dan perikanan berjalan terarah, konsisten, dan berkelanjutan.

“Pasca kunjungan ini, saya akan segera berkoordinasi dengan Gubernur dan DPRD agar penguatan sektor ini mendapat dukungan penuh, baik dari sisi kebijakan maupun penganggaran,” ujarnya.

Sementara itu, Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Sultra, Sri Resqina R. Laydi, mengungkapkan potensi besar Balai Benih Udang Mata sebagai pusat produksi benur berkualitas di Sultra.

Dalam satu siklus produksi, balai tersebut mampu menghasilkan hingga 1 juta benur, dengan potensi mencapai 4 juta benur per tahun. Benur tersebut telah dimanfaatkan oleh kawasan tambak di Konawe Selatan dan Bombana, dengan estimasi produksi udang mencapai 400 ton.

“Jika diasumsikan harga udang Rp60.000 per kilogram, maka potensi omzet yang dihasilkan bisa mencapai Rp24 miliar bagi pelaku usaha,” jelasnya.

Ia menambahkan, balai benih udang juga berkontribusi terhadap PAD dengan target tahun 2026 sebesar Rp125 juta.

Tak kalah penting, Balai Jasa Dok Perbengkelan turut menopang aktivitas perikanan tangkap melalui layanan docking, perawatan, hingga perbaikan kapal dengan biaya yang relatif terjangkau bagi nelayan.

Pada tahun 2025, balai tersebut mencatatkan PAD sebesar Rp128 juta. Tahun 2026, target ditingkatkan menjadi Rp250 juta, dengan proyeksi peningkatan signifikan jika kapasitas fasilitas diperluas.

“Kami berharap ada peningkatan kapasitas dari dua rel menjadi lima rel serta pembenahan sarana dan prasarana. Dengan itu, potensi PAD bisa terdongkrak hingga Rp500 juta per tahun,” pungkasnya optimistis.(redaksi).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *