BOMBANA – Umat Hindu di Kabupaten Bombana, Sulawesi Tenggara, bersiap menyambut Hari Suci Nyepi Tahun Baru Saka 1948 atau Tahun 2026 Masehi dengan menggelar rangkaian upacara keagamaan yang sarat makna spiritual sekaligus menjadi sarana edukasi bagi masyarakat tentang pentingnya penyucian diri dan menjaga keharmonisan hidup.
Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kabupaten Bombana, Made Piarsa, SE, menjelaskan bahwa perayaan Nyepi tidak hanya berlangsung pada satu hari, tetapi diawali dengan sejumlah ritual sakral yang bertujuan membersihkan diri dan alam semesta dari unsur-unsur negatif.
“Rangkaian Nyepi dimulai dengan upacara Melasti yang bertujuan membersihkan sarana persembahyangan serta memohon tirta atau air suci,” ujar Made Piarsa kepada Kabengga.id melalui pesan WhatsApp.
Ia menjelaskan, Upacara Melasti akan dilaksanakan pada Senin, 16 Maret 2026. Umat Hindu di Bombana akan bergerak dari desa masing-masing mulai pukul 08.00 WITA menuju lokasi pelaksanaan yang dipusatkan di Pantai Tompo Batu.
Menurutnya, air laut atau sumber mata air dipilih karena dalam ajaran Hindu diyakini sebagai media penyucian yang mampu menetralisir kotoran lahir dan batin sebelum umat memasuki hari suci Nyepi.
Setelah Melasti, rangkaian dilanjutkan dengan Upacara Pengerupukan pada 18 Maret 2026, yang bertujuan menetralisir kekuatan negatif yang diyakini dapat mengganggu keseimbangan kehidupan manusia.
Ritual ini ditandai dengan pawai ogoh-ogoh, yakni patung raksasa yang melambangkan sifat-sifat buruk manusia. Di Bombana, pawai ogoh-ogoh akan dimulai sekitar pukul 14.00 WITA dan dipusatkan di Desa Margajaya, kemudian berakhir di kawasan Pura Jagatnatha Desa Kalaero.
“Pengerupukan menjadi simbol pembersihan alam dari energi negatif. Ogoh-ogoh menggambarkan sifat buruk manusia yang harus dikendalikan agar kehidupan kembali harmonis,” jelasnya.
Selanjutnya, umat Hindu akan memasuki puncak Hari Suci Nyepi dengan melaksanakan Catur Brata Penyepian, yakni empat pantangan utama yang dijalankan selama satu hari penuh sebagai bentuk pengendalian diri dan perenungan spiritual.
Keempat pantangan tersebut meliputi Amati Geni (tidak menyalakan api atau lampu), Amati Karya (tidak bekerja), Amati Lelungan (tidak bepergian), serta Amati Lelanguan (tidak menikmati hiburan).
Dalam praktik modern, Amati Geni juga dimaknai dengan meminimalkan penggunaan listrik serta menghentikan aktivitas memasak sebagai simbol pengendalian diri dan kesederhanaan.
Di Kabupaten Bombana sendiri, jumlah umat Hindu diperkirakan mencapai sekitar 1.500 jiwa yang tersebar di beberapa wilayah, terutama di Kecamatan Lantari Jaya dan Rarowatu Utara. Selain itu, komunitas umat Hindu juga terdapat di Desa Tampa Bulu dan Desa Lamoare.
Melalui momentum perayaan Nyepi ini, Made Piarsa juga mengajak seluruh masyarakat Bombana untuk terus menjaga kerukunan dan memperkuat toleransi antarumat beragama.
“Perayaan Nyepi bukan hanya momen sakral bagi umat Hindu, tetapi juga mengandung pesan moral bagi kita semua agar terus menjaga kedamaian serta memperkuat toleransi. Mari kita saling menghormati perbedaan dan hidup berdampingan secara harmonis,” pungkasnya./DR.
