KENDARI — Seorang pria berinisial MA (21) di Kota Kendari, Sulawesi Tenggara, harus berurusan dengan hukum setelah diduga melakukan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) terhadap istrinya sendiri, AR (20). Ironisnya, aksi kekerasan itu terjadi saat korban tengah menggendong bayi mereka yang masih berusia empat bulan.

Peristiwa tersebut terjadi di rumah pasangan muda itu di Lorong Garuda, Kelurahan Puuwatu, Kecamatan Puuwatu, Senin (16/2/2026). Aparat dari Polresta Kendari bergerak cepat mengamankan pelaku sehari setelah kejadian.

Kasat Reskrim Polresta Kendari, AKP Welliwanto Malau, membenarkan adanya laporan tersebut.

“Benar, ada kejadian suami melakukan KDRT terhadap istrinya,” ujar Welliwanto, Rabu (18/2).

Dipicu Emosi Saat Nongkrong

Berdasarkan hasil pemeriksaan awal, insiden bermula saat MA merasa tersinggung dan emosi karena dipanggil pulang oleh istrinya ketika sedang berkumpul bersama rekan-rekannya. Cekcok di dalam rumah pun tak terhindarkan.

Polisi menyebut korban sempat lebih dulu melakukan pemukulan dalam situasi pertengkaran tersebut. Namun, respons pelaku justru berujung pada tindak kekerasan yang lebih parah.

“Pelaku memukul dan menendang korban saat korban sedang menggendong bayi berusia empat bulan sehingga istri dan bayinya terjatuh di lantai,” ungkap Welliwanto.

Aksi tersebut menyebabkan korban mengalami kekerasan fisik dan trauma. Beruntung, bayi yang digendong korban tidak dilaporkan mengalami luka serius, meski sempat terjatuh akibat tendangan pelaku.

Ditangkap Sehari Setelah Kejadian

MA diringkus aparat di Jalan Pattimura, Kelurahan Puuwatu, Selasa (17/2). Setelah ditangkap, ia langsung digelandang ke Mapolresta Kendari untuk menjalani pemeriksaan intensif.

Saat ini, pelaku telah ditahan dan terancam dijerat dengan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga (UU PKDRT). Penyidik masih mendalami keterangan saksi serta hasil visum korban untuk melengkapi berkas perkara.

Kasus ini kembali menjadi pengingat keras bahwa persoalan domestik tidak pernah dapat dibenarkan diselesaikan dengan kekerasan—terlebih ketika keselamatan ibu dan bayi menjadi taruhan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *