Kendari – Petani Jagung di Desa Lalonggombu, Kecamatan Lainea, Konawe Selatan (Konsel), Sulawesi Tenggara (Sultra) menunggu janji Bupati Konsel Irham Kalenggo untuk mensertifikatkan sebagian lahan tanaman jagung eks hak guna usaha (HGU) PT Kapas Indah Indonesia (KII).

Janji Bupati Irham Kalenggo itu disampaikan dihadapan ratusan warga Desa Lalonggombu pada saat pemasangan patok batas dimulainya pembangunan markas komando grup V komando pasukan khusus (Kopassus) November 2025.

Seperti diketahui lahan eks HGU PTT KII dijadikan markas komando pasukan khusus (kopassus) grup V sedangkan sisanya diperuntukan untuk masyarakat Desa Lalonggombu.

Salah seorang tokoh masyarakat Desa Lalonggombu, Umar mengatakan sampai hari ini petani jagung tetap menantikan janji bupati kapan lahan tanaman jagung disertifikasi agar petani memperoleh kepastian hukum.

“Kami masyarakat disini mengharapkan pak bupati Konsel merealiaasikan janji untuk mensertifikatkan sebagian lahan eks HGU KII,” jelas Umar, kepada wartawan, Selasa (19/5).

Dikatakan Umar hampir 95 persen masyarakat Desa Lalonggombu adalah petani dan pekebun tanaman pangan khusunya jagung pakan.

Bahkan ada juga ASN dan TNI/Polri juga mengolah lahanya untuk ditanami jagung pakan.

“Alhamdulillah sejak tahun 2017 pendapatan warga desa Lalonggombu terus meningkat setelah mereka memanfaatkan sebagian lahan eks HGU PT KII dengan menanam jagung pakan,” jelasnya.

Hal ini terlihat dalam hal pembagisn bantuan beras untuk rakyat miskin (raskin) dan bantuan langsung tunai (BLT) warga Lalonggombu banyak yang enggan mengambilnya tidak seperti tahun sebelum 2017 warga selaku berbondong – bondong ke tempat pembagian raskin dan BLT biasa terjadi gesekan di masyarakat karena ada masyarakat yang tidak terkafer dalam program tersebut padahal data penerima dikeluarkan pemerintah pusat.

“Sekarang ini masyarakat cenderung tidak tertarik lagi yang namanya bansos,” ungkap lulusan Fakultas Hukum Universitas Muhammadya Kendari (UMK) itu.

Lebih lanjut dijelaskan Desa Lalonggombu adalah desa produsen jagung pakan terbesar di Konsel bahkan se – Sultra dengan rata – rata hasil dalam satu tahun mencapai ribuan ton dengan dua sampai tiga kali panen yang diusahakan dengan memanfaatkan sebagian lahan eks HGU PT KII.

Menurutnya dampak positif lain yang dirasakan warga selain cenderung kurang tertarik dengan bansos adalah meningkatnya taraf pendidikan generasi muda Desa Lalonggombu.

“Dari hasil jagung banyak generasi muda di Lalonggombu ini kuliah pada tingkatan srata satu bahkan sampai level magister,” terangnya.

Hal lain yang perlu disyukuri dengan meningkatkan pendapatan petani adalah berdampak pada peningkatkan PAD melalui PBB yang muaranya meningkatkan APBD Konsel, menurunkan kemiskinan dan pengangguran sekaligus pilot projek ketahanan pangan sebagaimana program bapak presiden Prabowo.

Begitu juga komoditi lain seperti kelapa sawit juga menjadi komoditi strategis yang dampak ekonominya sudah dirasakan warga apalagi sejak didirkan pabrik kelapa sawit (PKS) ada di Laeya.

“Jadi harapan kami masyarakat Desa Lalonggombu bapak bupati Konsel segera merealiasasikan janji mensertifikatkan lahan agar masyarakat nyaman dalam berinvestasi karena ada juga komoditas kelapa sawit yang memerlukan modal besar,” tutupnya.

Kalau sertifikasi lahan petani ini terpenuhi maka satu lagi terobosan monumental pak bupati yang akan dikenang warga Lalonggombu selain program “setara” yang sangat bermanfaat bagi masyarakat Konsel.

Perlu diketahui di Desa Lalonggombu dana pinjaman masyarakat dari perbankan sekitar Rp 3 miliar modal pengembalian bertumpu dari hasil panen jagung jadi kalau lahan itu digusur atau diambil sertifikat rumah masyarakat terancam. (redaksi).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *