WAKATOBI, KABENGGA.ID. – Vakumnya Dewan Pengurus Daerah (DPD) Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kabupaten Wakatobi selama lebih dari satu tahun terakhir menuai sorotan tajam dari kalangan pemuda. Mereka menilai organisasi yang seharusnya menjadi rumah besar pemuda itu kini kehilangan arah dan tidak lagi menjalankan fungsinya sebagai wadah perjuangan generasi muda.
Kekecewaan tersebut disampaikan sejumlah pemuda dari berbagai organisasi dan komunitas di Wakatobi. Mereka menuntut DPD KNPI Sulawesi Tenggara segera turun tangan menyelamatkan organisasi yang dinilai telah mati suri tanpa aktivitas maupun kepengurusan yang berjalan efektif.
Salah seorang perwakilan pemuda, Bung Risal, mengungkapkan bahwa sejak terbentuknya kepengurusan terakhir, tidak ada lagi aktivitas organisasi yang terlihat. Rapat, program kerja, maupun komunikasi dengan pemuda dan pemerintah daerah disebut nyaris tidak pernah dilakukan.
“Sudah lebih dari satu tahun KNPI Wakatobi tidak beraktivitas. Tidak ada rapat, tidak ada program, tidak ada komunikasi dengan pemuda maupun pemerintah daerah. Padahal Wakatobi memiliki ribuan pemuda dengan potensi besar di berbagai sektor. Kami bingung harus menyalurkan aspirasi ke mana jika wadah utamanya justru tidak berfungsi,” kata Risal kepada awak media, Senin (1/6/2026).
Menurutnya, kondisi tersebut semakin memprihatinkan lantaran hingga kini belum ada langkah konkret dari DPD KNPI Sulawesi Tenggara untuk menunjuk caretaker atau tim penyelamat organisasi guna memastikan roda organisasi tetap berjalan.
Berbagai upaya komunikasi yang dilakukan ke tingkat provinsi, lanjut dia, belum menghasilkan kepastian. Akibatnya, banyak agenda dan kegiatan kepemudaan yang seharusnya mendapat dukungan organisasi terpaksa berjalan sendiri atau bahkan tidak terlaksana.
“KNPI seharusnya menjadi mitra strategis pemerintah dalam membangun generasi muda. Namun yang terjadi di Wakatobi justru sebaliknya. Organisasi ini seperti hilang tanpa jejak, sementara pemuda kehilangan wadah untuk menyampaikan gagasan dan berkontribusi terhadap pembangunan daerah,” ujarnya.
Risal menilai, jika KNPI kembali aktif, banyak program yang dapat dikembangkan bersama pemuda, mulai dari penguatan kapasitas kepemimpinan, pemberdayaan ekonomi kreatif, hingga pengawalan kebijakan publik yang berpihak pada kepentingan generasi muda.
Atas kondisi tersebut, para pemuda menyampaikan tiga tuntutan utama. Pertama, mendesak DPD KNPI Sulawesi Tenggara segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kondisi KNPI Wakatobi dan menunjuk caretaker untuk menghidupkan kembali organisasi.
Kedua, meminta agar Musyawarah Daerah (Musda) segera digelar guna memilih kepengurusan baru yang sah, representatif, dan memiliki program kerja yang jelas.
Ketiga, meminta Pemerintah Kabupaten Wakatobi turut mengawal dan memfasilitasi proses pemulihan organisasi mengingat peran strategis pemuda dalam pembangunan daerah.
Mereka menegaskan tidak akan tinggal diam apabila persoalan tersebut terus dibiarkan berlarut-larut. Bahkan, sejumlah elemen pemuda membuka peluang melakukan aksi yang lebih besar hingga ke tingkat provinsi agar tuntutan mereka mendapat perhatian serius.
“Kami tidak meminta hal yang berlebihan. Kami hanya ingin KNPI kembali hidup dan menjalankan fungsinya. Wakatobi membutuhkan organisasi pemuda yang aktif, bergerak, dan mampu menjadi jembatan antara pemuda dan pemerintah. Jangan sampai organisasi ini benar-benar mati di tengah besarnya potensi generasi muda daerah,” tegas Risal.
Hingga berita ini diterbitkan, DPD KNPI Sulawesi Tenggara maupun Pemerintah Kabupaten Wakatobi belum memberikan tanggapan resmi terkait tuntutan dan keluhan yang disampaikan para pemuda tersebut.(redaksi).
